Katarina
dilahirkan pada tanggal 3 Mei 1632 di sebuah desa kecil di Perancis. Ia
dibaptis pada hari itu juga. Keluarga Katarina adalah keluarga Katolik
yang saleh. Kakek dan neneknya memberikan teladan terutama dalam
ketulusan mereka merawat orang-orang miskin. Katarina menyaksikan dengan
mata terbelalak sementara neneknya mengajak seorang pengemis cacat
masuk ke dalam rumah mereka. Neneknya itu mempersilakan sang pengemis
mandi, memberinya pakaian bersih serta menyediakan hidangan lezat.
Ketika Katarina dan kakek neneknya duduk bersama sekeliling perapian
malam itu, mereka mendaraskan doa Bapa Kami keras-keras. Mereka mengucap
syukur kepada Tuhan atas segala berkat-Nya.
Karena
tidak tersedia rumah sakit di kota mereka yang kecil, orang-orang sakit
dirawat hingga sembuh kembali di rumah kakek nenek Katarina. Katarina
mulai menyadari bahwa penyakit dan penderitaan membutuhkan kesabaran. Ia
masih seorang gadis kecil, tetapi ia berdoa mohon pada Yesus agar
mengurangi penderitaan orang-orang. Ketika masih gadis belia, Katarina
bergabung dalam ordo baru Biarawati Santo Agustinus. Mereka merawat
orang-orang sakit di rumah sakit. Suster Katarina menerima jubahnya pada
tanggal 24 Oktober 1646. Pada hari yang sama, kakak perempuannya
mengucapkan kaulnya. Pada tahun 1648, Sr Katarina mendengar para imam
misionaris meminta para biarawati untuk datang ke Perancis Baru atau
Kanada, yang merupakan daerah misi. Saudari Katarina dipilih sebagai
salah seorang dari para biarawati pertama dari ordo mereka yang akan
pergi sebagai misionaris ke Kanada. Sr Katarina belum genap enambelas
tahun usianya, tetapi ia mohon dengan sangat agar diperkenankan ikut
serta. Sr Katarina mengucapkan kaulnya pada tanggal 4 Mei 1648. Keesokan
harinya ia berlayar ke Kanada, yaitu sehari sebelum ulang tahunnya yang
keenambelas.
Perjuangan
hidup terasa berat di Quebec, Kanada. Sr Katarina mengasihi masyarakat
di sana. Orang-orang Indian sangat berterimakasih atas sikapnya yang
riang gembira. Ia memasak dan merawat mereka yang sakit di rumah sakit
ordo mereka yang miskin. Tetapi, Sr Katarina merasa takut juga.
Orang-orang Indian dari suku Iroquois membantai orang serta membakar
desa-desa. Katarina berdoa kepada St. Yohanes Brebeuf,
salah seorang dari para imam Yesuit yang belum lama dibunuh oleh suku
Iroquois pada tahun 1649. Ia berdoa mohon bantuan St. Brebeuf agar ia
setia pada panggilannya. Sr Katarina mendengarnya berbicara dalam
hatinya, memintanya untuk tetap tinggal. Sementara itu, makanan mulai
sulit didapat dan musim dingin luarbiasa menggigit. Sebagian dari para
biarawati tidak tahan menghadapi kehidupan yang keras itu, ditambah lagi
rasa takut yang terus-menerus karena ancaman maut. Sayang sekali,
mereka kembali ke Perancis. Sr Katarina juga takut. Kadang-kadang ia
merasa sungguh sulit berdoa. Dan sementara ia tersenyum kepada semua
orang yang ia rawat dengan penuh kasih sayang di bangsal-bangsal rumah
sakit, ia merasa sedih. Pada saat itulah, ketika segalanya tampak gelap
baginya, ia mengucapkan janji untuk tidak pernah meninggalkan Kanada. Ia
berjanji untuk tetap tinggal, melakukan karya belas kasihannya hingga
akhir hayat. Saat mengucapkan janjinya, Katarina baru berusia duapuluh
dua tahun.
Meskipun
orang harus dengan usaha keras merintis kehidupan di koloni Perancis
itu, banyak juga pendatang. Gereja berkembang. Tuhan memberkati daerah
baru tersebut dengan lebih banyak misionaris. Pada tahun 1665, Sr
Katarina menjadi pembimbing novis dalam komunitasnya. Ia tetap
membaktikan dirinya dalam doa dan pelayanan rumah sakit hingga akhir
hidupnya. Sr Maria Katarina dari St. Agustinus wafat pada tanggal 8 Mei
1668. Usianya tiga puluh enam tahun. Ia dinyatakan sebagai “beata” oleh
Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989.
Yesus tidak pernah menjanjikan kita hidup yang enak dan tanpa derita.
Tetapi, sungguh Ia berjanji untuk menyertai kita senantiasa. Kita
berdoa agar kita boleh belajar untuk mengandalkan hidup kita sepenuhnya
pada-Nya.
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

0 komentar:
Posting Komentar