Pangeran
Jerman ini hidup pada akhir abad keduabelas dan awal abad ketigabelas.
Ketika usianya duapuluh satu tahun, ia dinikahkan dengan St Elizabeth dari Hungaria
yang baru berusia empatbelas tahun. Pernikahan ini diatur oleh kedua
orangtua mereka seturut kebiasaan pada masa itu. Louis dan Elizabeth,
keduanya mengasihi Tuhan; dan Ia menumbuhkan cinta kasih mesra di antara
mereka. Demikianlah, mereka hidup berbahagia bersama. Kebahagiaan
mereka semakin bertambah ketika Tuhan menganugerahi mereka tiga anak.
Yang bungsu adalah B Gertrude.
Louis
membantu isterinya dalam banyak karya amal kasih kepada fakir miskin.
Ia juga bersamanya dalam doa yang saleh. Dari waktu ke waktu, rakyat
melihat pangeran mereka yang tampan dan isterinya yang cantik
bahu-membahu menolong mereka yang malang. Dikisahkan bahwa suatu ketika
Elizabeth membawa masuk seorang kusta ke dalam istana dan merawatnya di
atas tempat tidur mereka. Sejenak, ketika Louis melihatnya, ia naik
pitam. Tetapi, sekonyong-konyong, bukannya melihat si kusta malahan ia
melihat Yesus yang tersalib terbaring di sana. Setelah kejadian itu,
yang menunjukkan betapa Yesus berkenan atas karya kasih Elizabeth, Louis
memerintahkan agar dibangun sebuah rumah sakit untuk para penderita
kusta.
Di
suatu musim dingin yang menggigit, Louis harus pergi jauh dari
negerinya. Ketika ia kembali, Elizabeth amat bersukacita. Tahun
berikutnya, Louis pergi dalam suatu Perang Salib demi membebaskan Tanah
Suci dari kaum Muslim. Tetapi, di tengah perjalanan ia terjangkit
malaria dan tak lama kemudian wafat. Sebab senantiasa hidup dalam
persatuan yang erat dengan Yesus, penguasa yang gagah berani ini tidak
takut mati. Ia menyambut Sakramen Perminyakan dan wafat dalam damai pada
tahun 1227.
Marilah
pada hari ini kita berdoa bagi pasangan-pasangan suami isteri agar
kasih mereka satu sama lain membantu mereka untuk bertumbuh dalam
kekudusan pribadi.
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

0 komentar:
Posting Komentar