Beato
Yohanes hidup pada awal pertengahan abad keempatbelas. Ia mempunyai
seorang saudari yang juga kudus, yaitu Beata Lusia dari Amelia. Mereka
adalah putera-puteri keluarga Bufalari dari wilayah Umbria, Italia.
Yohanes merasakan panggilan kepada hidup religius. Ia tertarik pada Ordo
St Agustinus dan ingin menjadi seorang broeder. Yohanes diterima masuk
ke dalam ordo dan segera merasa kerasan di sana. Ia senang berdoa dan
bermeditasi mengenai Yesus, Maria dan para kudus. Ia belajar bagaimana
berbicara kepada Tuhan, Bapa-nya, dan teristimewa ia berusaha
mendapatkan kesempatan untuk ikut melayani dalam Misa. Orang banyak dari
kota-kota terdekat datang untuk ikut ambil bagian dalam Misa di Gereja
St Agustinian. Mereka memperhatikan seorang broeder yang senantiasa ada
di sana. Ia begitu damai dan lemah lembut. Broeder Yohanes senantiasa
menyongsong kedatangan mereka. Ia membuat mereka serasa di rumah.
Apabila
orang-orang datang ke biara untuk mendapatkan pertolongan, Broeder
Yohanes ada di sana menyalami dan menyambut mereka. Bagi mereka yang
tinggal bermalam, ia akan membawa mereka ke kamar-kamar tamu dan
melayani mereka. Ia akan memastikan bahwa mereka mendapatkan makanan,
obat-obatan dan segala yang lain yang dapat diberikan biara. Tahun-tahun
berlalu. Broeder Yohanes melewatkan kehidupan religiusnya seturut irama
jam-jam yang berlalu. Ia teguh dan mantap. Broeder Yohanes tetap penuh
sukacita dalam panggilan hidupnya hingga wafatnya pada tahun 1350.
Siapapun yang pernah datang ke biara tak heran ketika mukjizat-mukjizat
mulai dilaporkan terjadi di makamnya. Broeder Yohanes tak akan
membiarkan kematian menghentikannya dari melakukan pewartaan bagi Yesus.
Dengan mengamalkan panggilan hidup Kristiani kita dengan sebaik-baiknya, kita menghadirkan Kristus ke dalam dunia.
“disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

0 komentar:
Posting Komentar