Karolus
hidup pada abad keenambelas. Ia adalah putera seorang bangsawan Italia
yang kaya. Sama seperti para pemuda kaya lainnya, ia bersekolah di
Universitas Pavia. Tetapi, tidak seperti kebanyakan dari mereka, ia
tidak ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang mengundang dosa. Karolus
terkesan sebagai murid yang lamban karena ia tidak dapat berbicara
dengan lancar, tetapi sungguh ia memperoleh kemajuan yang
menggembirakan.
Usianya
baru dua puluh tiga tahun ketika pamannya, Paus Pius IV, menyerahkan
banyak tugas penting kepadanya. Karolus berhasil menyelesaikan
tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan baik. Namun demikian, ia
senantiasa cemas kalau-kalau ia semakin jauh dari Tuhan karena banyaknya
godaan di sekelilingnya. Oleh sebab itulah, ia berlatih menyangkal diri
terhadap segala kesenangan dan senantiasa berusaha untuk rendah hati
serta sabar. Sebagai seorang imam, dan kemudian Uskup Agung Milan, St.
Karolus menjadi teladan bagi umatnya. Ia menyumbangkan sejumlah besar
uang kepada kaum miskin. Ia sendiri hanya memiliki sehelai jubah lusuh
berwarna hitam. Tetapi, di hadapan umum, ia berpakaian seperti layaknya
seorang kardinal. Ia ambil bagian dalam upacara-upacara Gereja dengan
penuh hormat dan wibawa.
Penduduk
kota Milan mempunyai banyak kebiasaan buruk, mereka juga percaya
takhayul. Dengan peraturan-peraturan yang bijakasana, dengan
kelemahlembutan dan kasih sayang, serta dengan teladan hidupnya sendiri
yang mengagumkan, St. Karolus menjadikan keuskupannya teladan bagi
pembaharuan gereja seluruhnya. Ia tidak pernah dapat berbicara dengan
lancar - umat hampir-hampir tidak dapat mendengarkannya - namun demikian
kata-kata yang diucapkannya menghasilkan perubahan.
Ketika
suatu wabah ganas menyerang dan mengakibatkan banyak kematian di Milan,
Kardinal Borromeus tidak memikirkan hal lain kecuali merawat umatnya.
Ia berdoa dan bermatiraga. Ia membentuk kelompok-kelompok umat yang
membantunya membagikan makanan bagi mereka yang kelaparan. Ia bahkan
mendirikan altar di jalan-jalan agar orang-orang yang sakit itu dapat
ikut ambil bagian dalam Perayaan Ekaristi lewat jendela rumah mereka.
Orang besar ini tidak pernah terlalu sibuk untuk menolong rakyat
sederhana. Suatu ketika ia menghabiskan waktunya untuk menemani seorang
bocah penggembala hingga bocah tersebut dapat berdoa Bapa Kami dan Salam
Maria. Menjelang ajalnya, pada usia empatpuluh enam tahun, St. Karolus
dengan tenang dan damai berkata, “Lihat, aku datang!” St. Karolus
Borromeus wafat pada tanggal 3 November 1584 dan dinyatakan kudus oleh
Paus Paulus V pada tahun 1610.
“Kita
perlu berdoa sebelum, selama dan sesudah melakukan segala sesuatu. Nabi
mengatakan: `Aku akan berdoa, dan kemudian aku akan mengerti.' Inilah
cara agar kita dapat dengan mudah mengatasi begitu banyak kesulitan yang
harus kita hadapi dari hari ke hari, yang memang, adalah bagian dari
hidup kita. Dengan doa kita menemukan kekuatan untuk menghadirkan
Kristus dalam diri kita dan sesama.”
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

0 komentar:
Posting Komentar