Petrus
di Morone adalah anak kesebelas dari duabelas bersaudara. Ia dilahirkan
sekitar tahun 1210 di Isernia, Italia. Ayahnya meninggal ketika ia
masih kecil. Keluarganya miskin, tetapi ibunya membesarkan
putera-puterinya dengan cinta yang besar. Ibunya menyekolahkan Petrus
karena anak itu menunjukkan niat dan minat yang besar untuk belajar.
Suatu ketika, seperti biasa ibunya bertanya, “Siapakah di antara kalian
yang akan menjadi seorang santo atau santa?” Petrus kecil, yang kelak
menjadi Paus Selestine V, menjawab dengan segenap hati, “Aku, mama! Aku
akan menjadi seorang santo!” Dan memang demikian. Tetapi, hal itu
tidaklah mudah.
Ketika
usianya dua puluh tahun, Petrus menjadi seorang rahib. Ia menghabiskan
hari-harinya dengan berdoa, membaca Kitab Suci dan mengerjakan
tugas-tugasnya. Para rahib yang lain biasa datang kepadanya untuk
meminta nasehat dan bimbingannya. Lama-kelamaan, Petrus membentuk suatu
ordo baru bagi para rahib.
Ketika
Petrus berusia delapan puluh empat tahun, ia ditahbiskan sebagai paus.
Penobatannya melalui seuatu cara yang amat tidak lazim. Selama dua tahun
lebih Gereja tidak memiliki paus. Hal ini terjadi karena para kardinal
saling tidak sependapat akan calon yang hendak dipilih. Petrus
mengirimkan pesan kepada mereka. Ia mengingatkan mereka untuk segera
mengambil keputusan, sebab Tuhan tidak akan senang dengan penundaan yang
terlalu lama. Para kardinal melakukan nasehatnya. Seketika itu juga
mereka memutuskan Petrus sang rahib untuk menjadi paus! Orang tua yang
malang itu menangis ketika mendengar keputusan itu. Dengan sedih ia
menerimanya dan memilih nama Selestine V. Ia hanya memangku jabatan Paus
selama lima bulan saja. Oleh sebab ia begitu rendah hati dan sederhana,
banyak orang memanfaatkannya. Ia tidak dapat mengatakan “tidak” kepada
siapa pun. Segera saja terjadilah kekacauan. Paus Selestine merasa
bertanggung jawab atas semua masalah yang timbul. Ia memutuskan bahwa
hal terbaik yang dapat dilakukannya bagi Gereja adalah menyerahkan
kembali jabatannya. Dan ia melakukannya. Ia minta maaf karena tidak
dapat memimpin Gereja dengan baik.
Hal
yang didambakan Selestine hanyalah tinggal di salah satu biaranya
dengan tenang dan damai. Tetapi paus yang baru, Paus Bonifasius VIII,
beranggapan bahwa akan lebih aman apabila Selestine tinggal di sebuah
kamar kecil di salah satu istana Romawi. St. Selestine menghabiskan
sepuluh bulan terakhir hidupnya di sebuah sel sederhana. Tetapi, ia
membuat dirinya sendiri bergembira. “Yang engkau inginkan hanyalah
sebuah sel, Petrus,” demikian katanya berulang kali kepada dirinya
sendiri. “Nah, sekarang kau telah mendapatkannya.” St. Selestine wafat
pada tanggal 19 Mei 1296. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Klemens VI pada
tahun 1313.
Apabila
kita merasa putus asa oleh karena tidak melihat hasil dari jerih payah
kita, mungkin hal itu adalah suatu ajakan dari Tuhan untuk sekedar
memberikan yang terbaik dan menyerahkan hasilnya pada-Nya.
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

0 komentar:
Posting Komentar