Yohanes
Baptis Rossi dilahirkan pada tahun 1698 di sebuah desa dekat Genoa,
Italia. Keluarganya amat mengasihinya. Mereka bangga ketika sepasang
suami isteri kaya yang mengunjungi desa mereka menawarkan pendidikan
bagi Yohanes. Orangtuanya mengenal pasangan tersebut serta percaya
kepada mereka. Yohanes amat senang boleh tinggal di rumah mereka di
Genoa karena dengan demikian ia dapat bersekolah. Segala sesuatu
berjalan lancar. Ia menjadi seorang seminaris di sebuah perguruan tinggi
Roma. Pelajarannya dianggapnya mudah dan ia mulai belajar dan belajar
lebih banyak lagi.
Yohanes
kemudian sakit parah dan harus berhenti belajar untuk beberapa waktu
lamanya. Setelah keadaannya cukup baik, ia menyelesaikan segala
persiapannya dan ditahbiskan sebagai imam. Meskipun kesehatannya tidak
pernah prima, Pastor Rossi melakukan begitu banyak kebajikan bagi umat
Roma. Ia tahu bagaimana rasanya tidak sehat, maka Pastor Rossi
memberikan perhatian khusus kepada mereka yang sakit. Ia menjadi
pengunjung tetap rumah-rumah sakit Roma. Terutama, ia suka menghabiskan
waktunya bersama orang-orang miskin di Wisma St. Galla, yaitu tempat
penampungan bagi mereka yang miskin dan tak memiliki tempat tinggal.
Pastor Rossi menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang memenuhi
kebutuhan rohani orang-orang miskin itu. Ia memperhatikan mereka yang
membawa kawanan ternak serta dombanya untuk di jual di pasar Roma.
Betapa berat hidup mereka. Mereka biasa datang pagi hari dengan kawanan
ternaknya. Pastor Rossi akan berjalan bersama mereka dan berhenti serta
bercakap-cakap dengan mereka. Apabila memungkinkan, ia akan memberikan
pelajaran agama kepada mereka serta menawarkan Sakramen Rekonsiliasi.
Pelayanan imamat Pastor Rossi membawa perubahan besar dalam hidup
mereka.
Pastor
kudus ini juga merasakan belas kasih mendalam kepada para wanita dan
gadis-gadis tunawisma. Mereka menyusuri jalan-jalan sepanjang siang dan
malam untuk mengemis. Hal ini sangat membahayakan dan juga sangat
menyedihkan. Bapa Suci memberikan sejumlah dana kepada Pastor Rossi
untuk mendirikan tempat penampungan bagi para wanita tunawisma ini.
Tempat penampungan itu terletak dekat Wisma St. Galla. Pastor Rossi
menyerahkan tempat penampungannya itu dalam perlindungan salah seorang
santo favoritnya, St. Alyosius Gonzaga. Pastor Rossi terkenal oleh
karena kebaikan dan kelembutan hatinya, terutama dalam pengakuan dosa.
Umat antri dekat kamar pengakuannya serta menunggu giliran mereka dengan
sabar. Suatu ketika Pastor Rossi mengatakan kepada seorang temannya
bahwa cara terbaik bagi seoang iman untuk mencapai surga adalah dengan
menolong umat melalui Sakramen Rekonsiliasi. Tugas favorit lain yang
diterimanya dari Paus Benediktus XIV adalah memberikan pelajaran rohani
kepada para petugas penjara dan pegawai negeri.
Pastor
Rossi terserang stroke pada tahun 1763. Ia tidak pernah sembuh kembali.
Ia masih dapat merakayan Misa tetapi dengan penderitaan yang amat
sangat. Imam yang mengagumkan ini wafat dalam usia enam puluh enam
tahun, pada tanggal 23 Mei 1764. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Leo XIII
pada tahun 1881.
Bagaimana kita dapat membantu para imam kita? Kiranya kita senantiasa berdoa bagi mereka serta mohon Yesus menghibur mereka.
“disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

0 komentar:
Posting Komentar