Santo Arnoldus Janssen
Santo Yosef Freinademetz
Dua Pribadi - Satu Misi
“Semoga Hati Tritunggal Mahakudus hidup dalam hati semua orang.”
“Logo Satu
Hati - Aneka Wajah” menggambarkan visi misi yang menginspirasi Arnoldus
Janssen dan Yosef Freinademetz pada masa awal dan terus menjadi
inspirasi yang mendorong karya missioner semua anggota tarekatnya sampai
hari ini. Tema utama yang ditekankan di dalam logo ini adalah
persekutuan di tengah keanekaan manusia, dialog dengan orang-orang dalam
aneka konflik sosial, komitmen untuk memberi diri bagi pelayanan yang
menghidupkan di tengah situasi kekerasan dan budaya kematian.
Dengan kata
lain, setiap orang yang berkehendak baik ditantang untuk mengupayakan
persatuan dan persaudaraan dengan oang-orang dari aneka latar belakang
suku, bangsa, agama, ras, budaya dan sebagainya.
ST. ARNOLDUS JANSSEN
Arnoldus
Janssen dilahirkan pada tahun 1837 di Goch, Rheinland, Jerman Barat.
Sebagai imam dalam dioses Mûnster, ia sangat aktif dalam aksi Kerasulan
Doa. Oleh karena ia menaruh minat yang besar untuk usaha persatuan umat
Kristen dan menanam Gereja di daerah-daerah dan bangsa-bangsa yang belum
percaya akan Kristus, maka didirikannya dalam tahun 1875 di Steyl,
sebuah kampung dalam Provinsi Limburg, Belanda, Serikat Sabda Allah (SVD),
untuk mendidik dan mempersiapkan misionaris-misionaris. Beberapa waktu
kemudian, ia mendirikan dua serikat biarawati, yakni Suster-Suster Misi
Abdi Roh Kudus (SSpS), dan Suster-Suster Abdi Roh Kudus (SSpSAP) untuk Penyembahan Abadi. Ia meninggal dalam tahun 1909.
ST. YOSEF FREINADEMETZ (1852-1908)
Yosef
Freinademetz dilahirkan tahun 1852 di Abtei (Tirol Selatan). Sesudah
ditahbiskan menjadi imam tahun 1875 di Brixen, ia mula-mula bekerja
dalam dioses tempat kelahirannya. Tahun 1878, ia masuk Rumah Misi yang
baru saja dibuka di Steyl (Belanda) oleh Pastor Arnoldus Janssen. Dalam
beberapa tahun berikutnya, ia sudah ditunjuk sebagai satu dari dua
misionaris pertama yang berangkat untuk berkarya di daerah Misi di Cina.
Di sana ia berkarya hampir 30 tahun lamanya, tanpa sekalipun melihat
tanah airnya. Disemangati cinta akan Kristus dan sesamanya, ia berusaha
menjadi segala-galanya bagi semua orang dan melayani umat sebagai
saudaranya dengan semangat penyerahan diri tanpa pamrih. Tanpa
menghiraukan segala penderitaan, hambatan dan penganiayaan, ia
mewartakan Kabar Gembira senantiasa dengan penuh kasih sayang dan ramah.
Ia adalah Karya Misi di daerah Shantung Selatan, ia pernah menjadi
Pejabat Uskup setempat dan pemimpin biara para misionaris. Dalam
tugas-tugasnya, ia bekerja dengan rasa tanggung jawab, tekun dan
bijaksana dalam membangun Gereja di daerah-daerah negara yang luas itu.
Ia meninggal akibat wabah typhus pada tanggal 28 Januari 1908 di Taikia,
dalam daerah Shantung.
Pada Hari
Minggu Misi sedunia dalam Tahun Suci 1975, Arnoldus Janssen dan Yosef
Freinademetz diangkat ke dalam kalangan para Beato oleh Paus Paulus VI,
dan pada bulan Oktober 2003 oleh Paus Yohanes Paulus II digelari Kudus.
CATATAN KANONISASI ST. ARNOLDUS JANSSEN & ST. YOSEF FREINADEMETZ
Tanggal 5
Oktober 2003 Paus Yohanes Paulus II atas nama gereja menggelar Arnoldus
Janssen SVD dari Steyl dan Yosef Freinademetz dari Shandung sebagai
orang kudus. Arnoldus adalah pendiri tiga tarekat misioner yakni SVD (Serikat Sabda Allah); SSpS (Serikat Misi Abdi Roh Kudus) dan SSpS AP (SSpS Adorasi Abadi / Kontemplatif). Sedangkan Yosef adalah misionaris SVD pertama yang diutus ke daerah misi Cina.
Panggilan Misioner:
Kekuatan
dan keberanian Arnoldus Janssen dalam mendirikan tiga tarekat misi di
atas dan perutusan Yosef Freinademetz ke tanah Cina menunjukkan betapa
semangat misi (panggilan misi) menjiwai dua pribadi ini. Misi dalam arti
sempit adalah pergi mewartakan Kabar Gembira kepada yang belum mengenal
Yesus. Maka tidak terlalu mengejutkan kalau banyak orang berpikir bahwa
kalau saya bermisi, saya harus pergi ke daerah / negara / tempat lain.
Namun dua pribadi di atas membawa kesadaran lain dalam diri kita tentang
paham misi itu sendiri. Arnoldus tidak pernah pergi ke tanah misi; dia
tetap tinggal di Eropa, tetapi pandangannya mengarah ke seluruh dunia;
wawasan misinya luas menjangkau semua. Dia memang diresapi semangat
misioner yang kuat. Sedangkan Yosef pergi ke tanah Cina, hidup seperti
orang Cina dan bersama orang Cina belajar melihat kehadiran Allah dalam
situasi mereka. Dia pun diresapi semangat misioner. Kedua-duanya,
dengan segala kelemahan dan keterbatasan manusiawi, berusaha mencintai
Allah dan sesama dalam dan melalui karya pelayanan yang dipercayakan
kepada mereka.
Semangat yang
sama harus menjadi semangat kita juga. Jumlah anggota tarekatnya
sekarang ini di seluruh dunia: SVD = enamribu-an anggota, SSpS = tiga
ribu lima ratus anggota dan SSpS AP = empat ratus anggota, dan untuk
semua anggota tarekat, keyakinan dasar ini harus tetap dipegang:
Misi Yesus, adalah misi kita
Perutusan-Nya adalah perutusan kita.
Maksudnya,
karya pelayanan kita bersumber dari Yesus dan dipersembahkan hanya untuk
kemuliaan nama Tuhan. Semua perutusan yang berorientasi pada diri akan
gagal kalau tidak dikatakan hancur berantakan.
Dua Pribadi - Satu Misi:
Arnoldus
Janssen dan Yosef, memiliki karakter yang sangat berbeda. Arnoldus
Janssen berwatak sangat keras, kadang menimbulkan kesulitan dengan orang
lain. Watak keras ini didukung oleh keahliannya dalam bidang matematika
dan ilmu alam. Dia menjadi orang yang sedikit kaku dan keras, segala
sesuatu mesti teratur dan teliti. Dalam keterbatasannya itu, dia
berjuang atau berusaha belajar dari pengalaman-pengalaman hidupnya;
berusaha mematikan kehendak-kehendak pribadinya. Akhirnya watak keras
itu berubah menjadi sebuah keyakinan yang kokoh akan kehendak Allah.
Yosef
Freinademetz dikenang karena cintanya akan Allah dan sesama. Dia
berjuang secara konkrit dalam perjumpaan dengan pribadi-pribadi yang
berbeda latar belakang kebudayaan. Dengan tekun Yosef mau belajar
melihat nilai-nilai positif yang hadir dalam agama dan budaya lain. Maka
tepat kalau Superior Jenderal (Pimpinan SVD) di Roma menulis satu
ungkapan indah:
"Arnoldus
dengan cakupan universal dan visi sejagat, Yosef dengan rasa hormat
terhadap keanekaragaman budaya dari dunia kita yang satu dan sama.”
Mgr Johanes Hadiwikarta:
"Orang Kudus adalah milik Gereja sejagat”
Perayaan
Syukur di Surabaya atas kanonisasi dua santo ini dilaksanakan di Gereja
St. Yohanes Pemandi, Wonokromo. Misa dipimpin oleh Mgr. Johanes
Hadiwikarta, Pr, didampingi oleh para Romo dan dihadiri umat dari
beberapa paroki. Misa yang dikemas dengan nuansa aneka budaya, baik
dalam tarian dan lagu ini, membawa kesan tersendiri. "Dengan digelar kudus, Arnoldus dan Yosef bukan hanya milik tarekat-tarekatnya; mereka adalah juga milik gereja. Maka kegembiraan ini adalah kegembiraan gereja sejagat,” demikian pesan Bapa Uskup dalam homilinya.
Kita mungkin
bertanya kenapa hanya sedikit orang yang digelar kudus? Atau kenapa
perlu ada orang kudus? Memang gereja mengakui bahwa ada banyak orang
yang hidupnya berkenan, yang imannya kokoh, yang seharusnya digelar
kudus. Tetapi dengan proses kanonisasi, gereja secara resmi menyatakan
bahwa kebajikan hidup dua pribadi ini (termasuk banyak tokoh kudus lain
dalam gereja) patut dicontohi atau dijadikan teladan.
Selaras dengan paham ini, Bapa Uskup Surabaya mengharapkan: Pertama,
untuk para anggota tarekat SVD-SSpS: "semoga semangat kesederhanaan,
semangat doa, semangat kemiskinan dan ketaatan dalam diri para santo itu
menjadi juga semangat anda dalam melayani umat di Keuskupan Surabaya dan ke tempat mana anda diutus." Kedua,
untuk umat: “panggilan dan semangat misi dalam diri dua tokoh ini
ternyata tidak lepas dari suasana hidup keluarga mereka. Orangtua
mereka adalah orangtua yang sederhana, yang terus-menerus mendidik
anak-anaknya dalam terang iman yang diyakini. Keluarga bagi Arnoldus dan
Yosef merupakan sekolah iman dan cinta kasih. Maka, mudah-mudahan doa
St. Arnoldus Janssen dan St. Yosef Freinademetz menginspirasi juga
keluarga-keluarga dalam mendidik dan membesarkan putra-putrinya.
Tidak usah
berjuang supaya anak kita sampai digelar sebagai santo atau santa,
tetapi sekurang-kurangnya mereka bisa menjadi orang baik dalam
masyarakat.





0 komentar:
Posting Komentar