Ayah
Bibiana, Flavian, adalah seorang pejabat kota Roma pada masa Gereja
Perdana. Flavian dan isterinya dikenal sebagai pengikut Kristus yang
taat. Ketika Kaisar Yulianus mengingkari iman Katoliknya dan mulai
menganiaya umat Kristen, Flavian ditangkap. Wajahnya dicap dengan besi
panas dan kemudian ia dikirim ke tempat pembuangan.
Setelah
Flavian wafat, isterinya - Dafrosa - juga dijadikan tahanan di rumahnya
sendiri. Hukuman itu dijatuhkan kepadanya karena kehidupan Kristianinya
yang saleh. Kemudian, Dafrosa juga dijatuhi hukuman mati. Bibiana, yang
ditinggal sendirian bersama saudarinya - Demetria - dengan segenap hati
mempercayakan diri kepada Tuhan dan berdoa. Segala milik mereka
dirampas. Lalu, kedua gadis tersebut diajukan ke pengadilan. Demetria
yang malang begitu ketakutan sehingga tewas seketika di kaki hakim.
Bibiana diserahkan kepada seorang perempuan pendosa yang ditugaskan
untuk menjadikan Bibiana sejahat dirinya. Perempuan itu membujuk dengan
kata-kata manis dan dengan banyak akal licik supaya Bibiana jatuh dalam
dosa. Tetapi Bibiana tidak dapat dibujuk. Ia dibawa kembali ke
pengadilan dan didera. Namun, ia tetap teguh pada iman dan kesuciannya.
Akhirnya, St. Bibiana didera dengan cambuk timah hingga wafat. Seorang
imam menguburkan jenasahnya pada malam hari di samping ibu dan
saudarinya.
Kadang-kala
kita harus menderita karena melakukan suatu hal yang kita yakini
kebenarannya. Kita dapat berdoa memohon rahmat ketekunan dalam berbuat
kebajikan sepanjang hidup kita.
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

0 komentar:
Posting Komentar