St. Nikolaus
"Memberi itu Indah."
oleh: P. Victor Hoagland, C.P.
St. Nikolaus,
seorang santo dari abad keempat yang menjadi ilham lahirnya tokoh modern
bernama Santa Claus atau Sinterklas, dilahirkan dekat Myra (sekarang
Turki). Myra adalah sebuah kota pelabuhan di Laut Mediterania dengan
jalur pelayaran yang ramai yang menghubungkan kota-kota pelabuhan laut
di Mesir, Yunani dan Roma. Kapal-kapal yang lalu lalang penuh dengan
muatan beras serta berbagai macam barang, tiba dengan selamat di
pelabuhan, setelah terlepas dari bahaya badai dan bajak laut.
Nikolaus
berasal dari salah satu keluarga pedagang kaya di Myra. Namun demikian,
ia bukanlah anak yang dimanjakan oleh keluarganya. Ayah dan ibunya
mengajarkan kepadanya untuk bersikap murah hati kepada orang lain,
terutama kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Dari situ Nikolaus
belajar bahwa menolong orang lain menjadikan jiwa bertambah kaya.
Suatu hari,
secara kebetulan, Nikolaus mendengar tentang seorang kaya di Myra yang
jatuh miskin karena usahanya bangkrut. Bapak itu memiliki tiga orang
anak gadis yang cantik, yang sudah cukup usianya untuk menikah. Tetapi
ia tidak mempunyai cukup uang untuk menikahkan anak-anak gadisnya. Lagi
pula, pikirnya, siapa yang mau menikahi mereka karena ayahnya sudah
jatuh miskin? Karena sudah tidak punya uang lagi untuk membeli makanan,
ayah yang putus asa itu memutuskan untuk menjual salah seorang anak
gadisnya sebagai budak. Setidak-tidaknya anggota keluarga yang lain
dapat bertahan hidup, demikian pikirnya.
Malam sebelum
anak gadis yang sulung dijual, Nikolaus dengan satu tas kecil berisi
emas di tangannya, mengendap-endap masuk halaman rumah mereka,
melemparkan tas yang dibawanya melalui jendela yang terbuka, dan sekejap
kemudian menghilang dalam kegelapan malam.
Keesokan
harinya, sang ayah menemukan tas berisi emas tergeletak di lantai dekat
tempat tidurnya. Ia tidak tahu dari mana datangnya. “Mungkin ini emas
palsu,” pikirnya.Tetapi setelah diujinya, ia tahu bahwa itu
sungguh-sungguh emas. Ia meneliti daftar teman serta rekan dagangnya.
Tak seorang pun dari mereka yang mungkin memberikan emas itu kepadanya.
Sang ayah jatuh bersimpuh dengan air mata mengalir deras membanjiri pipinya. Ia mengucap syukur
kepada
Tuhan atas anugerah-Nya yang indah ini. Semangatnya bangkit kembali
setelah padam sekian lama, karena seseorang secara tak disangka-sangka
berbelas kasih kepadanya. Ia mempersiapkan pernikahan putri sulungnya.
Masih tersisa cukup uang bagi mereka semua untuk hidup selama hampir
setahun. Seringkali ia bertanya-tanya: siapa gerangan yang memberinya
emas?
Dengan
berakhirnya tahun, keluarga mereka tidak lagi memiliki apa-apa. Sang
ayah, yang sekali lagi putus asa dan tidak menemukan adanya jalan
keluar, memutuskan agar anak gadisnya yang kedua harus dijual. Tetapi,
Nikolaus mendengar tentang hal ini, ia datang malam hari dekat jendela
rumah mereka dan melemparkan satu tas berisi emas seperti yang ia
lakukan sebelumnya. Keesokan harinya sang ayah bersukacita dan bersyukur
kepada Tuhan serta memohon pengampunan dari-Nya karena telah berputus
asa. Namun demikian, siapakah gerangan orang misterius yang memberi
mereka hadiah yang luar biasa ini?
Sejak itu,
setiap malam sang ayah selalu mengawasi jendela rumahnya. Dengan
berakhirnya tahun, berakhir jugalah uang simpanan mereka. Suatu hari,
dalam keheningan malam, ia mendengar langkah orang mengendap-endap dekat
rumahnya dan tiba-tiba satu tas berisi emas jatuh ke atas lantai. Sang
ayah cepat-cepat bangkit dan lari untuk menangkap orang misterius itu.
Setelah beberapa saat berlari, ia berhasil menangkap dan mengenali
Nikolaus, karena pemuda itu berasal dari keluarga terpandang di kota.
“Mengapa engkau memberikan emas kepada kami?” tanya sang ayah.
“Karena Bapak membutuhkannya,” jawab Nikolaus.
“Tetapi mengapa engkau menyembunyikan diri dari kami?”
“Karena memberi itu indah, jika hanya Tuhan saja yang mengetahuinya.”
Ketika Uskup
Myra wafat, para imam, tokoh-tokoh kota, serta para uskup sekitarnya
berkumpul bersama di katedral untuk memilih seorang uskup baru. Mereka
berdoa serta memohon kepada Tuhan untuk menunjukkan kepada mereka
siapakah yang pantas untuk jabatan itu. Dalam suatu mimpi, Tuhan
berfirman kepada salah seorang dari mereka bahwa besok pagi haruslah
mereka semua berdoa bersama. Sementara mereka berdoa, seseorang akan
masuk lewat pintu katedral. Orang itulah yang harus mereka pilih.
Ternyata
Nikolaus-lah yang masuk ke dalam katedral. Penduduk kota segera
memilihnya menjadi uskup mereka, karena mereka tahu bahwa orang yang
sederhana ini, yang perbuatan baiknya telah mereka kenal, telah dipilih
Tuhan untuk membimbing mereka.
Sebagai Uskup
Myra, Nikolaus menjadi semakin lebih sadar akan kebutuhan banyak orang.
Ia akan menjelajahi seluruh penjuru kota untuk menawarkan pertolongannya
kepada siapa saja yang sedang berada dalam kesulitan, dan kemudian
pergi diam-diam tanpa menunggu ucapan terima kasih. Ia tidak ingin
menjadi terkenal. Namun demikian, nama baiknya sebagai seorang kudus
semakin tersebar dan tersebar, bahkan tersebar hingga ke kota-kota yang
jauh yang belum pernah dikunjunginya.
Nikolaus secara
istimewa memberi perhatian agar keluarga-keluarga mempunyai makanan
yang cukup serta tempat tinggal yang layak, anak-anak tumbuh dan
berkembang, para lanjut usia menempuh hidup mereka dengan martabat dan
hormat. Nikolaus amat suka pada para pelaut yang hidup penuh bahaya di
lautan. Tanpa kapal-kapal mereka, orang banyak di belahan dunia ini
tidak memiliki makanan serta barang-barang seperti yang mereka bawa
dalam perdagangan mereka.
Lebih dari
semuanya itu, pada masa kini Nikolaus terutama dikenang karena cintanya
kepada anak-anak. Semasa hidupnya, ia biasa membagikan hadiah-hadiah
kecil kepada anak-anak yang ia jumpai, seperti permen dan mainan.
Kelembutan hatinya, yang biasanya juga mengejutkan mereka, menyentuh
hati anak-anak, sehingga mereka dapat belajar dari orang kudus ini
betapa indahnya memberi itu.
Dalam sosok
Santa Claus, yang nama dan aktivitasnya diilhami dari kisah hidup St.
Nikolaus, orang kudus ini tinggal bersama kita sekarang.
Sumber: "Saint Nicholas, an example of Advent" by Fr Victor Hoagland, C.P.; Passionist Publications; www.cptryon.org/prayer/adx
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Victor Hoagland, CP.”

0 komentar:
Posting Komentar