Pada
tahun 1811 Petrus Yulianus Eymard dilahirkan di sebuah kota kecil yang
termasuk dalam wilayah keuskupan Grenoble, Perancis. Bersama ayahnya,
Petrus bekerja membuat serta memperbaiki pisau hingga usianya
delapanbelas tahun. Waktu luangnya dipergunakannya untuk belajar. Ia
belajar sendiri bahasa Latin dan menerima bimbingan rohani dari seorang
imam yang baik hati. Petrus ingin sekali menjadi seorang imam. Ketika
usianya duapuluh tahun, Petrus memulai pelajarannya di Seminari
Grenoble. Petrus Yulianus akhirnya ditahbiskan menjadi seorang imam pada
tahun 1834 dan selama lima tahun berikutnya ia melayani di dua paroki.
Umat menyadari betapa Pastor Eymard telah menjadi berkat bagi mereka
semua.
Ketika
P. Eymard meminta ijin kepada Bapa Uskup untuk menggabungkan diri
dengan suatu ordo baru, yaitu Ordo Marists, Bapa Uskup memberikan
persetujuannya. P. Eymard kemudian menjadi direktur rohani bagi para
seminaris Marists. Pada tahun 1845, ia diangkat menjadi Superior (=
pembesar biara) Lyon, Perancis. Tetapi meskipun P. Eymard melaksanakan
begitu banyak tugas yang dibebankan kepadanya dengan giat sepanjang
hidupnya, P. Eymard akan selalu dikenang secara istimewa untuk sesuatu
yang lain.
P.
Eymard mempunyai cinta yang menyala-nyala kepada Ekaristi Kudus. Ia
amat terpesona dengan kehadiran Yesus dalam Ekaristi. Ia suka sekali
meluangkan waktu setiap hari untuk melakukan adorasi (= sembah sujud)
kepada Sakramen Mahakudus. Pada Pesta Corpus Christi, yaitu Hari Raya
Tubuh dan Darah Kristus, P. Eymard dianugerahi suatu pengalaman rohani
yang amat dahsyat. Sementara ia membawa Hosti Kudus dalam prosesi, ia
merasakan kehadiran Yesus, bagaikan suatu kehangatan dari sumber api.
Hosti itu serasa menyelebunginya dengan kasih dan cahaya. Dalam hatinya,
P. Eymard berdoa kepada Tuhan tentang kebutuhan-kebutuhan rohani dan
jasmani umatnya. Ia memohon agar kerahiman dan belas kasih Yesus
menyentuh hati setiap orang seperti ia sendiri disentuh melalui
Ekaristi.
Pada
tahun 1856, P. Eymard mengikuti inspirasi yang telah didoakannya selama
bertahun-tahun. Dengan persetujuan dari para pembesarnya, P. Eymard
membentuk ordo religius yang beranggotakan para imam yang ber-adorasi
kepada Ekaristi Kudus. Mereka dikenal sebagai Para Imam dari Sakramen
Mahakudus, s.s.s. Dua tahun setelah ordo para imam dibentuk, P. Eymard
membentuk ordo untuk para biarawati, Abdi Allah dari Sakramen Mahakudus.
Sama seperti para imam, para biarawati juga mempunyai cinta yang
istimewa kepada Yesus dalam Ekaristi Kudus. Para imam dan biarawati dari
Sakramen Mahakudus membaktikan hidup mereka dalam adorasi kepada Yesus.
P. Eymard juga membentuk kelompok-kelompok dalam gerejanya guna
membantu umatnya mempersiapkan diri untuk menyambut Komuni Kudusnya yang
Pertama. Ia menulis beberapa buku mengenai Ekaristi yang telah
diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa. Buku-buku itu masih
beredar hingga sekarang.
P.
Eymard hidup pada masa yang sama dengan seorang kudus lainnya yang akan
kita rayakan pestanya besok, tanggal 4 Agustus, yaitu St. Yohanes Vianney.
Mereka berdua bersahabat dan masing-masing saling mengagumi yang
lainnya. Pastor Vianney mengatakan bahwa Pastor Eymard adalah seorang
kudus dan ia menambahkan, “Adorasi oleh para imam! Betapa baiknya! Aku
akan berdoa setiap hari bagi karya Pastor Eymard.”
St.
Petrus Yulianus Eymard melewatkan empat tahun terakhir hidupnya dalam
penderitaan hebat. Di samping penderitaan jasmani, ia juga harus
menderita karena berbagai masalah dan kecaman. Namun P. Eymard tetap
setia dalam adorasinya kepada Sakramen Mahakudus. Kesaksian hidupnya
serta pengorbanannya mendorong banyak orang lainnya untuk menjawab
panggilan hidup mereka dengan bergabung dalam ordo-ordo religius. P.
Eymard wafat pada tanggal 1 Agustus 1868 dalam usia limapuluh tujuh
tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Yohanes XXIII pada tanggal 9
Desember 1962.
Sebagai
orang Katolik kita mengimani kehadiran Yesus secara sakramental dalam
Ekaristi. Bagaimana iman saya tersebut mempengaruhi hidup saya?
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

0 komentar:
Posting Komentar