St.
Yohanes adalah seorang nelayan di Galilea. Ia, bersama dengan St.
Yakobus saudaranya, dipanggil untuk menjadi rasul Kristus. Yesus memberi
julukan “anak-anak guruh” kepada kedua putera Zebedeus ini. St. Yohanes
adalah rasul yang termuda. Ia amat dikasihi oleh Yesus. Pada perjamuan
malam terakhir, Yohanes diperbolehkan menyandarkan kepalanya didada
Yesus. Yohanes juga satu-satunya rasul yang berdiri di kaki salib. Yesus
yang sedang menghadapi ajal menyerahkan pemeliharaan Bunda-Nya kepada
murid yang dikasihi-Nya ini. Sambil memandang Bunda Maria, Ia berkata,
“Inilah ibumu.” Jadi, hingga akhir hidupnya di dunia, Bunda Maria
tinggal bersama St. Yohanes. Hanya Yohanes seorang yang memperoleh hak
istimewa untuk menghormati serta melayani Bunda Allah yang tanpa noda.
Pada
hari Paskah, pagi-pagi sekali, Maria Magdalena dan beberapa wanita
membawa rempah-rempah menuju ke makam Yesus untuk meminyaki Tubuh-Nya.
Mereka kembali dengan berlari-lari kepada para rasul untuk menyampaikan
suatu berita yang mengejutkan. Tubuh Yesus telah hilang dari makam.
Petrus dan Yohanes pergi untuk menyelidiki hal itu. Yohanes tiba
terlebih dahulu, tetapi ia menunggu Petrus untuk masuk ke dalam makam
terlebih dahulu. Baru sesudahnya, ia masuk dan melihat kain kapan yang
telah tergulung rapi. Kemudian, pada minggu itu juga, para murid sedang
memancing di Danau Tiberias tanpa hasil. Seseorang yang berdiri di
pantai mengatakan kepada mereka untuk menebarkan jala mereka ke sisi
lain perahu. Ketika mereka menarik jala mereka kembali, jala itu penuh
dengan ikan besar. Yohanes, yang mengenali siapa orang itu, segera
berseru kepada Petrus, “Itu Tuhan!”
Dengan
turunnya Roh Kudus, para rasul penuh dengan keberanian baru. Setelah
Tuhan Yesus naik ke surga, Petrus dan Yohanes menyembuhkan seorang
lumpuh dalam Nama Yesus.
Yohanes
hidup hampir seabad lamanya. Ia sendiri tidak wafat dimartir, tetapi
sungguh ia menempuh hidup yang penuh penderitaan. Ia mewartakan Injil
dan menjadi Uskup Efesus. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, ketika ia
tidak lagi dapat berkhotbah, para muridnya akan membawanya kepada jemaat
Kristiani. Pesannya yang sederhana adalah, “Anak-anakku, kasihilah
seorang akan yang lain.” St. Yohanes wafat di Efesus sekitar tahun 100.
“Para
rasul melihat Yesus secara jasmani, dari muka ke muka; mereka
mendengarkan perkataan yang Ia ucapkan, dan setelah tiba saatnya mereka
mewartakaan sabda-Nya itu kepada kita. Jadi, kita juga telah
mendengarkan, meskipun kita tidak melihat; kita bersekutu dengan mereka,
karena kita dan mereka memiliki iman yang sama.” St. Agustinus.
“disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

0 komentar:
Posting Komentar