Beato Dionisius a Nativitate
& Beato Redemptus a Cruce
Martir Indonesia
Pierre
Berthelot (Jr) dilahirkan di kota pelabuhan Honfleur, Calvados,
Perancis, pada tanggal 12 Desember 1600. Ia adalah yang sulung dari
sepuluh anak pasangan Pierre Berthelot (Sr) dan Fleurie Morin. Ayahnya
seorang dokter dan kapten kapal.
Sejak
usia duabelas tahun, Pierre telah mengikuti ayahnya mengarungi samudera
luas. Pada tahun 1619, ketika usianya sembilanbelas tahun, Pierre yang
telah menjadi seorang pelaut ulung ikut berlayar dalam suatu ekspedisi
dagang Perancis ke India sebagai ahli navigasi. Malang, kapalnya
diserang VOC Belanda dan ia dibawa sebagai tawanan ke Jawa. Setelah
bebas, Pierre menetap di Malaka, di mana ia bekerja pada angkatan laut
Portugis. Pierre seorang yang gagah berani dan jenius; karirnya begitu
gemilang. Raja Portugis menyebutnya sebagai “ahli navigasi dan pembuat
peta Asia” yang luar biasa. Peta-peta laut yang dibuatnya amat terkenal,
antara lain peta pulau Sumatera yang hingga kini disimpan di Museum
Inggris. Ekspedisi pelayaran kerap membawanya ke Goa, India, di mana ia
berkenalan dengan Biara Karmel Tak Berkasut dengan kepala biaranya, P
Philip dari Trinitas. Pada tahun 1634, ketika usianya tigapuluh empat
tahun, Pierre meninggalkan karirnya untuk menggabungkan diri dalam Biara
Karmel. Pada tanggal 25 Desember 1636, ia mengucapkan kaulnya dan
menerima nama biara Dionisius a Nativitate. Dionisius mendapat karunia
kontemplasi; pada lebih dari satu kesempatan, pada saat berdoa, ia
tampak dilingkupi oleh semarak surgawi. Di Biara Karmel itulah,
Dionisius bertemu dengan Redemptus a Cruce.
Thomas
Rodriguez da Cunha, dilahirkan di Paredes, Portugal pada tahun 1598,
putera dari pasangan petani yang miskin namun saleh. Ia masuk dinas
ketentaraan Portugis dan ditugaskan ke India. Pada tahun 1615, Thomas
meninggalkan karirnya untuk menggabungkan diri dalam Biara Karmel di
Goa. Ia menjadi seorang broeder Karmel dengan nama Redemptus a Cruce,
yang melayani sebagai portir [= penjaga pintu] dan sakristan. Redemptus
adalah seorang yang amat menyenangkan, bersahabat dan periang. Ketika
ditugaskan pergi dalam ekspedisi ke Sumatera, ia berkelakar dengan
teman-teman sebiara agar mereka melukis dirinya, kalau-kalau ia nanti
wafat sebagai martir.
Pada
tahun 1638 Raja Muda Portugis di Goa, Peter da Silva, bermaksud
mengirim utusan ke Aceh, yang baru saja berganti penguasa dari Sultan
Iskandar Muda ke Sultan Iskandar Thani. Ia bermaksud menjalin hubungan
persahabatan karena hubungannya dengan sultan terdahulu tidak begitu
baik. Raja Muda meminta Karmelit untuk mengijinkan Dionisius ikut dalam
rombongan delegasi sebagai pembimbing rohani, sekaligus sebagai ahli
maritim, pula seorang yang fasih berbicara bahasa Melayu. Komunitas
Karmel harus taat pada keputusan pemerintah. Karenanya, studi Dionisius
dipercepat agar ia dapat ditahbiskan sebagai imam. Dan akhirnya, pada
tanggal 24 Agustus 1638, Dionisius ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr.
Alfonso Mendez. Untuk perjalanan ke Aceh ini, P Dionisius minta ijin
agar Broeder Redemptus diperkenankan ikut bersamanya sebagai rekan
seperjalanan.
Pada
tanggal 25 September 1638, Pater Dionisius dan Broeder Redemptus pun
meninggalkan Goa bersama rombongan misi perdamaian dan perdagangan
Portugis. Perjalanan yang lancar membawa mereka tiba dengan selamat di
Aceh pada tanggal 25 Oktober 1638. Mereka berlabuh di Ole-Ole (sekarang
bernama Kotaraja) dan disambut dengan ramah oleh penduduk setempat.
Tetapi keramahan masyarakat Aceh ternyata hanya merupakan tipu-muslihat
saja. Orang-orang Belanda telah menghasut Sultan Iskandar Thani dengan
menyebarkan isu bahwa bangsa Portugis datang untuk mengkatolikkan bangsa
Aceh yang sudah memeluk agama Islam. Sekonyong-konyong kedua biarawan
ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara hingga sebulan lamanya.
Karena tetap menolak untuk mengingkari iman, kedua biarawan dijatuhi
hukuman mati. Di pesisir pantai, P Dionisius, dengan salib di tangannya,
dipaksa menyaksikan mereka menggorok leher Redemptus yang lebih dulu
menjadi martir. Selanjutnya, algojo yang beringas dengan sekuat tenaga
menghunuskan kelewang dan tombak ke arah Dionisius. Tetapi sungguh
ajaib, seolah ada suatu kekuatan dahsyat yang menahan, sehingga para
algojo tidak berani maju. Sadar akan hal itu, P Dionisus segera
mengatupkan kedua tangannya berdoa memohon kepada Tuhan agar
kerinduannya menjadi seorang martir dikabulkan. Dan permohonan orang
kudus ini didengarkan Tuhan. Seorang algojo - seorang Kristen Malaka
yang murtad - mengangkat gada dan disambarkan keras-keras ke kepala P
Dionisius, disusul dengan kelewang yang memisahkan kepala Dionisius dari
tubuhnya.
Kemartiran
Dionisius dan Redemptus sungguh berkenan di mata Tuhan. Selama tujuh
bulan, jenazah tidak hancur, melainkan tetap segar seolah sedang tidur.
Menurut saksi mata, jenazah P Dionisius amat merepotkan masyarakat
sekitar, karena setiap kali dibuang, entah ke dalam laut maupun ke
tengah hutan, senantiasa kembali lagi ke tempat di mana ia dimartir.
Akhirnya, jenazah dengan hormat dimakamkan di Pulau Dien (`pulau
buangan') dan di kemudian hari dipindahkan ke Goa, India. Para saksi
iman itu wafat sebagai martir pada tanggal 29 Nopember 1638. Dionisius
dan Redemptus dimaklumkan sebagai `beato' oleh Paus Leo XIII pada
tanggal 10 Juni 1900. Pesta kedua biarawan Karmel ini dirayakan oleh
segenap Karmelit pada tanggal 29 November. Di Indonesia, pesta B
Dionisius dan B Redemptus dirayakan sebagai peringatan wajib setiap
tanggal 1 Desember.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan dari berbagai sumber oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

0 komentar:
Posting Komentar