Rita
dilahirkan pada tahun 1381 di sebuah dusun kecil di Italia. Kedua
orangtuanya sudah tua. Telah lama mereka mohon pada Tuhan agar
dikaruniai seorang anak. Ketika Rita lahir, mereka membesarkan Rita
dengan kasih sayang. Ketika usianya lima belas tahun, Rita ingin masuk
biara, tetapi orangtuanya menetapkan bahwa ia harus berumah tangga. Pria
yang mereka pilih menjadi suami Rita ternyata seorang yang kejam serta
tidak setia. Perangainya yang kasar membuat semua tetangga takut
padanya. Namun demikian, selama delapan belas tahun lamanya, isterinya
dengan sabar menanggung segala makian. Berkat doa-doanya, kelembutan
serta kebaikan hatinya, pada akhirnya ia dapat melunakkan hati suaminya.
Suaminya minta maaf pada Rita atas segala perlakuannya dan bersedia
kembali ke jalan Tuhan.
Kebahagiaan
Rita atas pertobatan suaminya tidak berlangsung lama. Suatu hari, tak
lama kemudian, suaminya dibunuh. Rita terpukul dan putus asa. Ia
mengampuni para pembunuhnya dan berusaha agar kedua puteranya juga mau
mengampuni mereka. Tetapi, ia melihat tekad kedua puteranya untuk balas
dendam atas kematian ayah mereka. Rita berdoa agar kedua puteranya itu
lebih baik mati saja daripada membunuh. Dalam beberapa bulan, kedua
puteranya sakit parah. Rita merawat mereka dengan kasih sayang. Selama
mereka sakit, ia membujuk mereka untuk mengampuni orang lain serta mohon
pengampunan Tuhan bagi diri mereka sendiri. Mereka mematuhi nasehat
ibunya dan meninggal dalam damai.
Sekarang,
suami maupun anak-anaknya telah meninggal dunia. Sebatang kara di
dunia, tiga kali Rita berusaha agar dapat diterima di biara di Cascia.
Peraturan biara di sana tidak mengijinkan seorang wanita yang telah
menikah bergabung bersama mereka, meskipun suaminya telah meninggal
dunia. Rita pantang menyerah. Pada akhirnya, para biarawati membuat
suatu perkecualian baginya. Di biara, Rita amat menonjol dalam ketaatan
dan belas kasihan. Ia memiliki devosi yang amat mendalam kepada Yesus
tersalib. Satu ketika, pada saat berdoa, ia mohon pada Yesus agar
diijinkan ikut merasakan kepedihan luka-luka-Nya. Suatu duri dari
mahkota duri-Nya menusuk keningnya dan menimbulkan luka yang tak pernah
dapat disembuhkan. Malahan, luka itu semakin buruk keadaannya dan
mengeluarkan bau tak sedap, sehingga St. Rita harus menjauh dari para
biarawati lainnya. Ia bahagia dapat menderita sebagai bukti cintanya
kepada Yesus.
St. Rita wafat pada tanggal 22 Mei 1457 dalam usia tujuh puluh enam tahun. Sama seperti St. Yudas Tadeus, St. Rita sering dijuluki “Santa atas Hal-hal yang Mustahil.”
Pada hari ini, marilah berdoa bagi mereka yang hidup tidak dekat dengan Tuhan.
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

0 komentar:
Posting Komentar