Orang
kudus dari Spanyol ini dilahirkan pada tahun 1553. Ia mengambil alih
usaha jual beli kain wol milik keluarganya ketika usianya duapuluh tiga
tahun. Tiga tahun kemudian ia menikah. Tuhan mengaruniakan kepada
Alfonsus dan Maria - isterinya, dua orang anak. Tetapi banyak
penderitaan yang kemudian datang menimpa Alfonsus. Usahanya mengalami
kesulitan, puterinya yang masih kecil meninggal dunia, disusul oleh
isterinya. Sekarang, pengusaha ini mulai berpikir tentang apa yang
kira-kira dirancangkan Tuhan baginya. Dari dulu Alfonsus adalah seorang
Kristen yang saleh. Tetapi sekarang, ia berdoa, bermatiraga, dan
menerima sakramen-sakramen lebih banyak dari sebelumnya.
Ketika
usianya menjelang empatpuluh tahun, putera Alfonsus meninggal dunia
juga. Bukannya membenamkan diri dalam kesedihan, tetapi Alfonsus semakin
khusuk berdoa serta memohon karunia percaya sepenuhnya kepada Tuhan.
Segera kemudian Alfonsus mohon diijinkan bergabung dengan Serikat Yesus.
Tetapi, ia diberitahu bahwa ia harus belajar terlebih dahulu. Jadi, ia
kembali bersekolah. Anak-anak kecil menertawakan Alfonsus. Ia harus
meminta-minta untuk makan, sebab ia telah memberikan seluruh uangnya
kepada kaum miskin papa. Demikianlah, pada akhirnya Alfonsus diterima
sebagai frater dan diberi tugas sebagai penjaga pintu di sebuah seminari
Yesuit. “Frater yang itu bukanlah seorang manusia - ia seorang
malaikat!” demikian kata superiornya mengenai Alfonsus bertahun-tahun
kemudian. Para imam yang mengenalnya selama empat puluh tahun tidak
pernah mendapatinya mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak baik.
Kebaikan hatinya serta ketaatannya telah diketahui semua orang. Suatu
kali, semua kursi dalam biara, bahkan juga kursi-kursi dari kamar tidur,
dipergunakan untuk suatu Devosi Empat Puluh Jam. Karena suatu
kesalahan, kursi Frater Alfonsus tidak dikembalikan kepadanya hingga
tahun berikutnya. Namun demikian, ia tidak pernah mengeluh atau pun
membicarakan masalah tersebut kepada siapa pun.
Selama
masa hidupnya yang panjang, St. Alfonsus harus menaklukkan
pencobaan-pencobaan yang berat. Selain itu, ia juga mengalami
penderitaan jasmani yang menyakitkan. Bahkan pada saat ia terbaring
mendekati ajalnya, ia harus melewatkan setengah jam lamanya bergumul
dengan penderitaan yang luar biasa. Kemudian, sesaat sebelum wafat, ia
dipenuhi dengan damai dan sukacita. Ia mencium Salibnya dan memandang
teman-teman sebiaranya dengan penuh kasih. St. Alfonsus wafat pada tahun
1617 dengan nama Yesus di bibirnya.
Meskipun
banyak penderitaan berat yang harus ditanggunggnya, Alfonsus tetap
berpegang teguh pada harapan serta kepercayaannya kepada Tuhan. Marilah
berdoa memohon harapan serta kepercayaan yang sama untuk menopang kita.
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

0 komentar:
Posting Komentar