St. Dominikus Savio
"Saya Ingin Menjadi Kudus, Pater"
St. Dominikus
Savio adalah santo pelindung remaja, khususnya remaja putra. Ia juga
diangkat menjadi pelindung paduan suara remaja putra, pelindung remaja
yang diperlakukan tidak adil serta pelindung bagi mereka yang tak
bersalah tetapi dikenai tuduhan palsu. Jadi, jika kalian punya masalah
dengan teman-teman sebayamu, atau gurumu, atau orangtuamu, atau masalah
remaja lainnya, janganlah ragu-ragu untuk memohon bantuan doa darinya.
Dominikus Savio
(Dominic artinya milik Tuhan) dilahirkan pada tanggal 2 April 1842 di
Riva, Chieri, Italia. Ia adalah seorang dari kesepuluh putra-putri
pasangan Carlo dan Birgitta Savio. Ayahnya seorang pandai besi sementara
ibunya seorang penjahit.
Sejak masa
kecilnya, Dominikus amat mengasihi Tuhan. Suatu hari, saat usianya baru
empat tahun, Dominikus menghilang. Ibunya, yang dengan cemas mencarinya,
akhirnya mendapatkan puteranya itu di sudut ruangan dengan tangannya
terkatup dan kepalanya tertunduk. Ia khusuk berdoa! Pada usia lima
tahun, setelah memohon dengan sangat, Dominikus diijinkan untuk menjadi
Putera Altar dan ketika usianya tujuh tahun, ia diperkenankan untuk
menerima Komuni Kudus-nya yang Pertama.
Karena
keluarganya miskin, Dominikus harus berjalan pulang balik sejauh 6 mil
(± 9.6 km) setiap hari agar dapat bersekolah di kota terdekat. Suatu
hari ketika gurunya sedang tidak berada di kelas, dua orang anak lelaki
membawa masuk banyak sekali salju dan sampah serta menyumpalkannya ke
dalam satu-satunya tungku pemanas ruangan. Ketika Pak Guru kembali, ia
menjadi sangat marah. Kedua anak tersebut ketakutan, mereka mengatakan
bahwa Dominikus-lah yang telah melakukannya. Pak Guru memaki-maki
Dominikus dengan kata-kata yang keras dan tajam. Ia juga menambahkan
jika saja ini bukan perbuatannya yang pertama, tentulah Dominikus telah
diusirnya. Dominikus tidak mengatakan sepatah kata pun untuk membela
diri. Ia berdiri di depan kelas dengan kepala tertunduk. Keesokan
harinya, tahulah Pak Guru apa yang sebenarnya telah terjadi. Segera ia
menemui Dominikus dan bertanya mengapa ia tidak membela diri. Dominikus
mengatakan bahwa ia khawatir Pak Guru akan mengeluarkan kedua anak nakal
tersebut, padahal ia ingin sekali mereka diberi kesempatan. “Lagipula,”
katanya, “saya ingat bahwa Yesus juga dituduh secara tidak adil dan Ia
diam saja.”
Ketika St.
Yohanes Bosco (biasa dipanggil Don Bosco) mencari tunas-tunas muda untuk
dididik sebagai imam dalam Serikat Salesian, imam paroki di mana
Dominikus tinggal menawarkan Dominikus kepadanya. Don Bosco mengujinya
terlebih dahulu dan setelah pertanyaan-pertanyaannya selesai, Dominikus
balik bertanya,
“Bagaimana pendapat Pater tentang saya?”
“Menurut saya, engkau adalah bahan yang bagus,” jawab Don Bosco dengan senyum lebar.
“Baiklah, Pater
adalah seorang tukang jahit yang hebat, jika bahannya memang bagus,
ambillah saya dan jadikan saya jubah yang indah bagi Tuhan!”
Demikianlah,
bulan Oktober 1854, pada usia dua belas tahun, Dominikus diterima
sebagai murid di Oratorio St. Fransiskus dari Sales di Turin.
Di Oratorio,
Dominikus dikenal oleh teman-teman serta para gurunya sebagai seorang
anak yang periang, ramah, serta teliti. Walaupun masih anak-anak, ia
dikaruniai Tuhan karunia-karunia rohani yang jauh melebihi usianya:
mengenali mereka yang membutuhkan pertolongan, mengenali kebutuhan
rohani orang-orang di sekitarnya, serta dikarunia kemampuan untuk
bernubuat. Dominikus memperoleh kasih sayang serta hormat dari
teman-temannya dan juga dari para imam.
Dominikus tidak
suka memaksakan kehendaknya serta tidak suka menonjolkan pendapat
pribadinya, tetapi ia tidak akan takut untuk menentang segala yang salah
dan selalu dapat memberikan alasan mengapa suatu tindakan dianggapnya
salah.
Suatu ketika,
Dominikus secara tidak sengaja mendengarkan rencana dua orang temannya
yang hendak berkelahi dengan saling melempar batu. Dominikus berusaha
sebaik-baiknya berbicara dengan mereka untuk membatalkan pertarungan
yang berbahaya itu. Namun demikian, tampaknya tidak ada lagi yang dapat
membujuk kedua anak itu untuk mengurungkan niat mereka. Bisa saja
Dominikus melaporkan mereka kepada guru mereka, tetapi ia pikir hal itu
hanya akan menunda perkelahian tanpa menyelesaikan masalah. Dominikus
berhasil membujuk kedua temannya itu untuk menerima satu syarat rahasia
darinya, yang akan dikatakan Dominikus sesaat sebelum perkelahian
dimulai. Maka, pergilah Dominikus dengan kedua temannya itu. Ia membantu
mereka mengumpulkan batu-batu guna persiapan perkelahian. Ketika
semuanya sudah siap, Dominikus mengacungkan sebuah salib kepada mereka
seraya berkata,
“Kalian berdua,
sebelum kalian berkelahi, pandanglah salib ini dan katakanlah, `Yesus
Kristus tidak berdosa dan Ia wafat dengan memaafkan
pembunuh-pembunuh-Nya. Saya seorang berdosa, dan saya hendak menyakiti
Yesus dengan tidak memaafkan musuh-musuh saya.' Setelah berkata
demikian, terlebih dahulu lemparkanlah batu pertama kalian kepadaku.
Itulah persyaratanku.”
“Tetapi Dominik, kamu tidak pernah menyakiti aku atau pun bersalah kepadaku. Kamu adalah temanku,” protes mereka.
“Kamu tidak
akan menyakiti aku, yang hanya seorang manusia yang lemah. Tetapi kamu,
dengan tindakan-tindakanmu itu, akan menyakiti Yesus Kristus yang adalah
Tuhan?”
Kedua temannya
itu menundukkan kepala mereka karena malu dan menjatuhkan batu-batu
mereka. Mereka saling memaafkan dan berjanji untuk menerima Sakramen
Tobat.
Dominikus Savio
bertekad untuk menjadi seorang kudus. Ia pergi ke kapel untuk berdoa.
Ia menolak untuk bermain dengan teman-temannya, mukanya pun diubah
menjadi muram dan serius. Dua hari lamanya Dominikus bersikap demikian.
Hingga, Don Bosco memanggilnya dan bertanya apakah ia sedang sakit.
“Tidak,” kata Dominikus, “sungguh saya dalam keadaan sehat dan bahagia.”
“Jika demikian, mengapa kamu tidak mau bermain seperti biasanya? Mengapa mukamu demikian muram?”
“Saya ingin menjadi kudus, Pater.”
Don Bosco
memuji ketetapan hatinya tetapi menasehati Dominikus untuk senantiasa
gembira dan tidak merasa khawatir; melayani Tuhan adalah jalan menuju
kebahagiaan sejati.
Nasehat Don
Bosco membuahkan hasil. Dominikus menjadi teladan sukacita bagi
teman-temannya. Suatu hari, saat ia menyambut seorang anak baru di
Oratorio, ia menjelaskan programnya.
“Di sini kita
mencapai kekudusan dengan hidup penuh sukacita. Kita menghindarkan diri
dari dosa -yaitu pencuri besar yang merampok rahmat Tuhan bagi kita
serta merampas kedamaian hati; kita tidak melalaikan tugas, serta
mencari Tuhan dengan segenap hati. Mulailah dari sekarang dan jadikan
kata-kata ini moto hidupmu: Servite Domino in laetitia: Layanilah Tuhan
dengan sukacita yang kudus.”
Pengalaman
membuktikan bahwa sumber pertolongan rohani terbesar diperoleh dari
Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Anak-anak yang menerima kedua
sakramen ini secara teratur bertumbuh mencapai kedewasaan rohani. Dengan
demikian hidup mereka menjadi teladan hidup Kristiani.
Sebelum
bersekolah di Oratorio, Dominikus biasa menerima Sakramen Tobat dan
Sakramen Ekaristi seminggu sekali. Sejak di Oratorio, ia melakukannya
lebih sering. Suatu hari Dominikus mendengarkan khotbah Don Bosco:
“Anak-anak,
jika kalian ingin menjaga diri agar senantiasa berada di jalan menuju
Surga, saya nasehatkan kalian agar sesering mungkin menerima Sakramen
Tobat dan Sakramen Ekaristi. Pilihlah seorang Bapa Pengakuan kepada
siapa kamu dapat mengungkapkan dirimu secara bebas dan, jika bukan
karena hal mendesak, janganlah berganti-ganti Bapa Pengakuan.”
Dominikus
memilih seorang Bapa Pengakuan baginya. Pada awalnya ia mengakukan
dosanya dua minggu sekali, kemudian seminggu sekali. Selesai menerima
Sakramen Tobat, Dominikus diperbolehkan menerima Sakramen Ekaristi. Bapa
Pengakuannya yang melihat perkembangan rohani Dominikus yang demikian
pesat, menyediakan waktu untuk berbicara dengannya tiga kali seminggu.
Di akhir tahun, ia mengijinkan Dominikus untuk menerima Komuni setiap
hari! Dominikus amat senang, katanya:
“Jika saya
merasa sedih dan khawatir, saya akan pergi kepada Bapa Pengakuan saya.
Dialah yang akan menunjukkan Kehendak Tuhan bagi saya; karena Yesus
Kristus sendiri telah menyatakan bahwa Bapa Pengakuan berbicara dengan
Suara Allah. Juga, ketika saya menginginkan sesuatu yang amat penting,
saya pergi menerima Komuni Kudus. Saya menerima Tubuh yang sama dengan
yang ditawarkan Tuhan bagi kita di Salib, bersama dengan Darah-Nya yang
Mulia, Jiwa-Nya dan Ke-Allahan-Nya. Apakah lagi yang masih saya inginkan
untuk melengkapi kebahagiaan saya, selain dari saat saya kelak
berhadapan muka dengan muka dengan-Nya, yang sekarang ini saya lihat di
altar hanya dengan mata iman?”
Sebelum Komuni
Pertamanya, Dominikus membuat empat janji yang ditulisnya dalam sebuah
buku kecil. Janji-janjinya itu seringkali dibacanya kembali. Tulisnya:
Janji keempat
akan menjadi moto Dominikus sepanjang hidupnya. Beberapa kali ia memohon
pada Tuhan untuk mengijinkannya meninggal sebelum ia sempat menyakiti
Tuhan dengan melakukan dosa berat.
Dengan semangat
jiwanya, Dominikus memutuskan untuk makan hanya roti dan minum hanya
air tawar setiap hari Sabtu demi menghormati Bunda Maria. Tetapi, Don
Bosco melarangnya. Kemudian ia berkeinginan untuk berpuasa selama Masa
Advent. Baru seminggu ia melakukannya, Don Bosco akhirnya mengetahui apa
yang sedang dilakukannya dan menyuruhnya berhenti berpuasa. Ia mohon,
setidak-tidaknya ia diijinkan untuk tidak sarapan, tetapi itu pun tidak
diperbolehkan. Semua laku silih badani itu akan berakibat buruk bagi
kesehatannya yang kurang baik.
Karena berpuasa
dan berpantang dilarang, Dominikus mencari cara lain untuk melakukan
silih. Ia meletakkan batu-batu serta ranting-ranting di tempat tidurnya
sehingga ia tidak dapat tidur dengan nyaman. Ia juga ingin mengenakan
baju kasar. Tetapi, itu pun dilarang. Dominikus mencari akal lain.
Selama musim dingin ia tetap mengenakan selimut musim panas yang tipis.
Suatu hari, Dominikus sakit dan harus tinggal di tempat tidur. Don Bosco
datang menjenguknya. Dilihatnya bahwa Dominikus hanya mengenakan
selimut tipis.
“Apa maksudnya ini? Kamu ingin mati kedinginan?”
“Tidak, Pater.
Saya tidak akan mati kedinginan. Yesus di palungan dan di atas salib
mengenakan kurang dari yang saya kenakan sekarang ini.”
Meskipun
begitu, Dominikus dilarang keras melakukan laku silih badani apa pun
tanpa ijin Don Bosco. Perintah ini ditaatinya, walau dengan hati sedih.
“Saya sungguh
tidak tahu harus bagaimana. Tuhan bersabda bahwa tanpa silih, kita tidak
dapat sampai ke Surga dan sekarang saya dilarang melakukan silih
apapun; alangkah kecilnya kesempatan saya untuk masuk Surga!”
“Silih yang diminta Tuhan darimu ialah ketaatan,” jawab Don Bosco
“Tidakkah saya diperbolehkan melakukan silih yang lain juga?” pintanya
“Ya, menerima
dengan sabar segala penghinaan serta menanggung dengan tabah segala
cuaca: panas, dingin, hujan dan angin; jika kamu lelah janganlah
bersikap buruk; jika kamu sakit, tetaplah bersyukur kepada Tuhan.”
“Tetapi, hal-hal demikian sudah termasuk dalam laku silih yang pokok.”
“Jika demikian,
kerjakanlah segala sesuatu dengan penuh sukacita, bersedialah
menanggung segala sesuatu demi cintamu kepada Tuhan, maka pastilah kamu
beroleh belas kasih daripada-Nya.”
Dominikus merasa puas dengan jawaban itu dan ia pergi dengan gembira.
"Aku
tidak mampu melakukan hal-hal besar, tetapi aku mau melakukan segala
sesuatu, bahkan hal-hal remeh sekali pun, demi kemuliaan Tuhan.”
~ St. Dominikus Savio
St. Dominikus Savio - 2
"Lebih Baik Mati Daripada Berdosa"
Merupakan suatu
perjuangan yang berat bagi Dominikus untuk mengendalikan pandangan
matanya, karena perangainya yang lincah dan suka mengamati. Ia
menceritakan kepada seorang teman bahwa pertama kali ia melatihnya,
perjuangannya demikianlah hebat hingga membuat kepalanya sakit. Namun
demikian, pada akhirnya, ia berhasil menguasai matanya sepenuhnya hingga
mereka yang mengenalnya memberikan kesaksian bahwa tak pernah sekali
pun Dominikus menggunakan matanya untuk melihat barang sekilas saja
pemandangan yang tidak layak.
“Mata kita,”
demikian katanya kepada teman-temannya, “adalah jendela. Seperti kalian
hanya perlu melihat apa yang ingin kalian lihat lewat jendela, demikian
jugalah dengan mata; mata akan menunjukkan kepada kita malaikat terang
atau setan kegelapan, kedua-duanya berebut untuk menguasai jiwa kita.”
Suatu hari,
seorang anak membawa ke sekolah sebuah majalah dengan banyak
gambar-gambar tidak sopan. Sekejap saja anak-anak lelaki segera
bergerombol di sekelilingnya ingin melihat juga gambar-gambar itu.
“Ada apa, ya?”
Dominikus bertanya-tanya, dan ia pun pergi untuk melihatnya. Sekilas
pandang saja sudah cukup baginya. Dirampasnya majalah itu dan
dirobek-robeknya!
“Apa yang
kalian pikirkan? Tuhan memberi kita mata sehingga kita dapat mengagumi
keindahan karya-Nya; dan kalian menggunakannya, atau lebih tepat
menyalahgunakannya, untuk melihat gambar-gambar yang mengerikan ini.
Apakah kalian lupa akan apa yang sering dikatakan Tuhan: satu pandangan
yang tidak benar saja dapat mengotori jiwa kita? Dan sekarang kalian
memanjakan mata kalian dengan gambar-gambar cemar itu!”
“Oh,” protes seorang anak, “ini hanya sekedar untuk bersenang-senang.”
“Untuk bersenang-senang. Dan sementara itu kalian mempersiapkan diri kalian ke neraka!”
“Memangnya, apa sih salahnya melihat-lihat gambar ini?” protes teman yang lain.
“Bahkan lebih
parah. Dengan tidak merasa bersalah, melainkan merasa diri benar, kalian
telah memperbesar dosa kalian. Tidak tahukah kalian bahwa nabi Ayub,
meskipun sudah tua dan rapuh, menyatakan bahwa ia mengadakan perjanjian
dengan matanya agar matanya tidak memandang hal lain selain dari yang
suci dan kudus?”
Tidak ada seorang pun yang berkata-kata lagi. Mereka semua sadar bahwa Dominikus benar.
Selain
mengendalikan matanya, Dominikus juga menjaga lidahnya. Ketika orang
lain berbicara, tak peduli pembicaraannya sesuai atau tidak sesuai
dengan pendapat pribadinya, Dominikus selalu bersedia mendengarkan.
Malahan seringkali ia menghentikan pembicaraannya sendiri untuk memberi
kesempatan pada yang lain untuk berbicara. Lebih dari itu, jika seorang
temannya mencari perkara dengannya, ia akan menahan diri dan menjaga
lidahnya.
Suatu hari,
Dominikus mengingatkan seorang anak yang memiliki kebiasaan buruk.
Bukannya menerima nasehat dan memperbaiki sikapnya, anak itu malahan
marah, memaki, memukul-mukul serta menyepak Dominikus. Mudah saja bagi
Dominikus untuk membalasnya karena dia lebih besar serta lebih kuat dari
anak itu. Tetapi Dominikus memilih untuk memikul Salib Kristus.
Meskipun wajahnya memerah, ia menguasai dirinya dan berkata:
“Kamu telah bersikap buruk kepadaku, tetapi aku memaafkanmu. Berusahalah untuk tidak bersikap demikian terhadap yang lain.”
Pada musim
dingin, Dominikus menderita gatal-gatal pada tangannya. Bagaimanapun
sakit rasanya, Dominikus tidak pernah mengeluh. Malahan, tampaknya ia
bergembira karenanya. “Semakin besar,” katanya, “akan semakin baik bagi
kesehatan,” dan `kesehatan' yang dimaksudkan olehnya adalah kesehatan
jiwa.
Dominikus juga
tidak pernah mengeluh tentang cuaca, atau peraturan-peraturan sekolah
atau pun makanan di asrama. Sesungguhnya saat makan adalah kesempatan
baginya untuk melakukan silih. Dengan senang hati ia akan menerima
potongan-potongan makanan yang ditolak anak-anak lain karena terlalu
asin, atau kurang asin, atau terlalu matang, atau pun kurang matang.
Dominikus mengatakan bahwa makanan tersebut sungguh sesuai dengan
seleranya.
Di waktu
luangnya, Dominikus membersihkan sepatu, menyikat baju teman-temannya,
menyapu, melayani mereka yang sakit serta melakukan pekerjaan-pekerjaan
kecil lainnya dengan segala kerendahan hati:
“Semua orang
melakukan apa yang mampu dilakukannya. Saya tidak mampu melakukan
hal-hal yang besar, tetapi saya mau melakukan segala sesuatu, bahkan
hal-hal yang remeh sekali pun, demi kemuliaan Tuhan; dan saya berharap
dalam Belaskasih-Nya yang Tak Terbatas, Tuhan akan memandang dengan
penuh belas kasih segala usaha saya yang tak berarti ini.”
Jadi, menyantap
makanan yang tidak disukainya, mengorbankan apa yang disukainya,
menjaga matanya dari pandangan yang tidak baik, mengorbankan
keinginannya sendiri, rela menanggung penderitaan baik mental maupun
fisik; hal-hal itulah yang menjadi laku silih Dominikus sepanjang hari
dan setiap hari. Dengan penuh semangat ia rela mati bagi dirinya sendiri
agar Kristus dapat tinggal di dalamnya. Dengan tekun Dominikus berusaha
sebaik-baiknya, bahkan dalam kesempatan terkecil sekali pun, untuk
menyempurnakan keutamaan-keutamaannya di hadapan Tuhan.
Salah satu dari
sekian banyak karunia yang dilimpahkan Tuhan kepada Dominikus adalah
karunia berdoa. Bahkan dalam permainan yang paling ribut sekali pun,
pikirannya tertuju kepada Tuhan dan hatinya diangkatnya dalam doa.
Suatu ketika
Dominikus menghilang dari pagi sampai saat makan malam. Don Bosco yang
mencarinya, akhirnya menemukan muridnya itu di gereja, khusuk dalam doa.
Ia sudah berada di sana selama enam jam, namun pikirnya Misa pagi masih
belum selesai! Dominikus menyebut saat doa yang khusuk dan mendalam itu
sebagai “penghiburanku.”
Dalam salah
satu `penghiburan' itu, Dominikus melihat suatu dataran luas yang
diselimuti kabut dengan banyak orang meraba-raba dalam kabut. Kepada
mereka datanglah sosok dengan jubah paus membawa obor yang menerangi
sekitarnya, dan suatu suara mengatakan, “Obor ini adalah iman Katolik
yang akan membawa terang bagi rakyat Inggris.”
Atas permintaan
Dominikus, Don Bosco melaporkannya kepada Paus Pius IX. Paus mengatakan
bahwa penglihatan itu meneguhkan niatnya untuk memberi perhatian khusus
kepada Inggris.
Dominikus
memiliki devosi yang mendalam kepada Bunda Maria. Setiap hari ia
melakukan laku silih untuk menghormatinya. Setiap kali memasuki gereja,
Dominikus berlutut di altar serta berdoa,
“O, Bunda
Maria. Aku berharap untuk selalu menjadi anakmu. Perolehkanlah bagiku
rahmat agar aku lebih memilih mati daripada berbuat dosa dan melanggar
kesucian.”
Satu tahun sebelum ajalnya ia berkata kepada Don Bosco:
"Pater, saya
ingin melakukan sesuatu untuk Bunda Maria. Tetapi saya harus
melakukannya dengan segera, karena jika tidak, saya takut semuanya akan
terlambat."
Maka atas
persetujuan Don Bosco, Dominikus membentuk perkumpulan remaja yang
diberinya nama "Persaudaraan Sejati dalam Bunda Maria yang Dikandung
Tanpa Dosa". Tujuan perkumpulannya adalah membantu teman-teman yang lain
agar dapat lebih dekat dan akrab dengan Tuhan Yesus, sama seperti yang
selalu dilakukan oleh Bunda Maria. Di samping kegiatan-kegiatan rohani,
mereka menyapu, membersihkan sekolah serta memperhatikan anak-anak yang
kurang diperhatikan oleh anak-anak lain. Perkumpulan itu berhasil,
sampai sekarang masih ada dan berkembang.
Setelah
kematiannya, Dominikus menampakkan diri kepada St. Yohanes Bosco, guru
sekaligus Paternya yang terkasih. (Selengkapnya silakan baca: Surga dalam Penglihatan dan Mimpi St Yohanes Bosco.) Don Bosco bertanya kepadanya hiburan terbesar apa yang didapatnya saat kematiannya. Dominikus menjawab:
"Hiburan
terbesar yang saya terima saat kematian saya adalah pertolongan dari
Bunda Tuhan yang penuh kuasa dan kasih. Tolong sampaikan kepada
teman-teman agar tidak lupa berdoa kepada Bunda Maria setiap hari
sepanjang hidup mereka."
Kesehatan
Dominikus tidak pernah prima. Pada bulan Maret 1857 ia jatuh sakit dan
dikirim pulang ke rumahnya di Mondonio. Kesehatannya semakin memburuk.
Dokter menyatakan ia menderita radang paru-paru / Tuberculosis . Cara
pengobatan pada masa itu ialah dengan merobek pembuluh darah dan
membiarkan `kelebihan' darah mengalir keluar. Dalam kurun waktu empat
hari, dokter telah mengiris lengannya sepuluh kali. Bukannya
menyembuhkan, mungkin hal itu malahan mempercepat kematiannya. Imam
dipanggil untuk memberikan Sakramen Terakhir. Dominikus meminta ayahnya
mendaraskan doa-doa bagi mereka yang menjelang ajal. Ketika doa hampir
selesai didaraskan, Dominikus mencoba duduk.
“Selamat tinggal, ayah.” bisiknya, “Pater mengatakan sesuatu padaku……tetapi aku tidak ingat apa…..”
Tiba-tiba wajahnya bersinar. Dominikus tersenyum bahagia serta penuh sukacita.
“Alangkah indahnya apa yang aku lihat!”
Kemudian
Dominikus tidak berkata-kata lagi. Ia meninggal dengan tenang di
rumahnya pada tanggal 9 Maret 1857 dalam usia empat belas tahun.
Jenasah
Dominikus dimakamkan di Basilik Maria Pertolongan Orang Kristen di
Turin, tak jauh dari makam pembimbingnya kelak, St. Yohanes Bosco.
Setelah
kematiannya, St. Yohanes Bosco menuliskan riwayat hidup Dominikus
sehingga gereja memproses kanonisasinya. Dalam sejarah gereja, Dominikus
Savio merupakan orang kudus bukan martir yang termuda (belum genap 15
tahun) yang dikanonisasi.
Pada tanggal 5
Maret Tahun Suci 1950 Dominikus Savio dibeatifikasi oleh Paus Pius XII.
Sungguh suatu kebetulan yang aneh bahwa tanggal 5 Maret 1950 adalah hari
Minggu Prapaskah II, dan tepat pada hari Minggu Prapaskah II, tahun
1855, St Yohanes Bosco menyampaikan kepada anak-anak lelaki di Oratorio
di mana Dominikus Savio adalah seorang murid, khotbah tentang betapa
mudahnya menjadi seorang kudus. Selanjutnya, pada tanggal 12 Juni 1954
Dominikus Savio dikanonisasi oleh Paus yang sama. Pesta St. Dominikus
Savio dirayakan setiap tanggal 6 Mei.
“Seorang
remaja seperti Dominikus, yang dengan gagah berani berjuang
mempertahankan kekudusannya sejak dari Pembaptisan hingga akhir
hayatnya, adalah sungguh seorang kudus.” ~ Paus St. Pius X
Sumber: 1.
Biografi St. Dominikus Savio oleh St. Yohanes Bosco; Saint Dominic
Savio Patron Saint of Choirboys; www.boychoirs.org/savio.html; 2.
berbagai sumber
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

0 komentar:
Posting Komentar