Gerardus
dilahirkan di akhir abad kesembilan di Perancis. Keluarganya kaya raya,
tetapi Geradus bukanlah seorang yang sombong. Sesungguhnya, ia dikenal
sebagai seorang yang baik hati dan bersahabat. Sepulang dari pergi
berburu, ia dan kawan-kawannya kembali ke rumah dalam keadaan capai dan
lapar. Setelah mengundang teman-temannya masuk untuk makan minum dan
beristirahat, ia sendiri pergi. Gerardus pergi menyelinap menuju sebuah
kapel kecil yang berada dalam wilayah tanah miliknya. Ia berdoa untuk
jangka waktu yang lama di sana. Tubuhnya yang lelah pun beristirahat dan
ia lupa sama sekali mengenai rasa laparnya.
Gagasan
muncul di benak Gerardus, andai saja orang banyak menyadari sukacita
doa, maka pastilah mereka akan dengan lebih suka hati berdoa. Kemudian
pikirannya pun melayang kepada para biarawan yang melewatkan sepanjang
hidup mereka menyampaikan puji-pujian kepada Tuhan. Bayangkan betapa
mereka beroleh hak istimewa, pikirnya. Maka berdoalah ia memohon
kesempatan untuk mendapatkan panggilan religius dan akhirnya ia dapat
bergabung dalam biara St Denis.
Gerards
mencintai kehidupan yang telah dipilihnya dan setelah menamatkan
pendidikan ia ditahbiskan menjadi seorang imam. Ia telah melewatkan
sebelastahun sebagai seorang biarawan ketika kepadanya diberikan ijin
untuk mendirikan suatu biara baru di tanah miliknya di Brogne. Biara
berkembang, tetapi Gerardus merasa terlalu banyak aktivitas dan
kesenangan di sana. Sebab itu ia membangun bagi dirinya sendiri sebuah
gubug pertapaan di samping gereja. Ia tinggal di sana dengan tenang
seorang diri.
Tetapi,
ia tidak dibiarkan tinggal dalam damai untuk waktu yang lama. Para
superior meminta Gerardus untuk mengunjungi biara-biara di Flanders dan
Normandy. Para biarawan membutuhkan bimbingan dan pertolongan agar dapat
lebih bertekun. Tugas ini menghantar Gerardus dalam banyak perjalanan
selama duapuluh tahun. Sepanjang hidupnya Gerardus hidup dengan cara
hidup yang ketat penuh matiraga. Ia melakukannya sebab ia ingin
membuktikan kepada Yesus bahwa ia mengasihi-Nya. Ia menunjukkan kasihnya
itu dengan suka hati mempersembahkan tindakan-tindakan kecil
penyangkalan diri. Ketika tahu bahwa masa hidupnya di dunia akan segra
berakhir, ia minta agar diijinkan kembali pulang ke gubug pertapaannya
di Brogne. Ijin diberikan. Gerardus wafat dalam damai pada tanggal 3
Oktober 959.
St
Gerardus menemukan cukacita doa yang berasal dari hubungan yang akrab
mesra dengan Tuhan. Adakah suatu cara di mana aku dapat membina hubungan
yang lebih akrab dengan Tuhan dalam hidupku sendiri?
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

0 komentar:
Posting Komentar