Hieronimus
adalah seorang Kristen Romawi yang hidup pada abad keempat. Ayahnya
mengajarkan agama dengan baik kepadanya, tetapi mengirim Hieronimus ke
sebuah sekolah kafir yang terkenal. Di sekolah tersebut, Hieronimus
mulai menyukai tulisan-tulisan kafir dan cintanya kepada Tuhan mulai
luntur. Namun demikian, persahabatannya dengan sekelompok orang-orang
Kristiani yang kudus, yang menjadi sahabat-sahabat dekatnya, membuatnya
berbalik kembali sepenuhnya kepada Tuhan.
Kemudian,
anak muda yang cerdas ini memutuskan untuk tinggal menyendiri di padang
gurun. Hieronimus khawatir kalau-kalau kesenangannya akan
tulisan-tulisan kafir akan menjauhkannya dari cinta Tuhan. Hieronimus
melakukan laku silih yang keras dan membiarkan dirinya terbakar panas
terik padang gurun. Meskipun begitu, di sana pun Hieronimus mengalami
pencobaan-pencobaan yang hebat. Hiburan-hiburan tak sehat yang
diselenggarakan di Roma senantiasa segar dalam bayangan serta
pikirannya. Walaupun demikian, Hieronimus pantang menyerah. Ia
memperberat laku silihnya serta menangisi dosa-dosanya. Ia juga belajar
bahasa Ibrani dengan seorang rahib sebagai gurunya. Hal tersebut
dilakukannya untuk menghindarkan diri dari pikiran-pikiran kotor yang
menghantui pikirannya. Hieronimus menjadi seorang sarjana Ibrani yang
hebat sehingga kelak ia dapat menterjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa
Latin. Oleh karena karyanya itu, banyak orang dapat membaca serta
mencintai Kitab Suci.
St.
Hieronimus menghabiskan berpuluh tahun hidupnya di sebuah gua kecil di
Betlehem, di mana Yesus dilahirkan. Di sana ia berdoa, mempelajari Kitab
Suci, serta mengajar banyak orang bagaimana melayani Tuhan. St.
Hieronimus menulis banyak surat yang mengagumkan dan bahkan juga
buku-buku untuk mempertahankan iman Kristiani dari serangan kaum bidaah.
Perangainya
yang cepat marah dan lidahnya yang tajam membuat St. Hieronimus
mempunyai banyak musuh. Namun demikian, ia seorang yang amat kudus yang
menghabiskan seluruh hidupnya untuk melayani Yesus dengan cara terbaik
yang mampu ia lakukan. Jadi, meskipun pemarah, ia menjadi seorang kudus
yang besar. St. Hieronimus wafat pada tahun 419 atau 420.
“Menjadi
seorang Kristen adalah hal yang luar biasa, bukan hanya seolah-olah
tampak luar biasa. Dan oleh karena satu dan lain hal, mereka yang paling
menyenangkan bagi dunia adalah mereka yang paling sedikit menyenangkan
Kristus …. Kekristenan dibentuk, dan bukan bakat yang diwariskan.”
St. Hieronimus
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

0 komentar:
Posting Komentar