Pada
pertengahan abad ketiga, Gereja masih mengalami penganiayaan.
Penganiayaan yang kejam dalam masa pemerintahan Kaisar Decius telah
merenggut nyawa Paus St. Fabianus.
Gereja tidak memiliki paus selama hampir satu tahun lamanya. Seorang
imam kudus dari Roma, Kornelius, dipilih menjadi Bapa Suci pada tahun
251. Kornelius menerima tugas tersebut, oleh sebab ia sangat mencintai
Kristus. Ia rela melayani Gereja sebagai seorang paus, meskipun
pelayanannya itu membahayakan jiwanya. Karena itulah Paus Kornelius amat
dikagumi di seluruh dunia. Teristimewa para Uskup Afrika secara
terang-terangan menyatakan cinta dan kesetiaan mereka kepada paus. Uskup
Siprianus dari Kartago mengirimkan kepada bapa suci surat-surat yang
membangkitkan semangat serta menyatakan dukungan.
Siprianus
dibaptis sebagai pengikut Kristus pada usia empat puluh lima tahun. Ia
mengherankan umat Kristiani di Kartago dengan mengucapkan kaul kemurnian
sesaat sebelum dibaptis. Beberapa waktu kemudian, Siprianus ditahbiskan
sebagai imam dan pada tahun 249 sebagai uskup. Penuh semangat Uskup Siprianus
membesarkan hati Paus Kornelius dengan mengingatkannya bahwa selama
masa penganiayaan yang sedang berlangsung di Roma itu, tidak ada seorang
umat Kristiani pun yang mengingkari imannya. Tulisan-tulisan St.
Siprianus menjelaskan tentang kasih yang harus dimiliki umat Kristiani
bagi persatuan Gereja. Kasih ini haruslah juga diperuntukkan bagi paus,
para uskup serta para imam, baik di keuskupan-keuskupan maupun di
paroki-paroki. Siprianus juga menulis sebuah thesis tentang persatuan
Gereja. Topik yang diangkatnya itu tetap menjadi topik penting di
sepanjang masa, termasuk masa sekarang.
Paus
St. Kornelius wafat dalam pengasingan di pelabuhan Roma pada bulan
September tahun 253. Oleh sebab ia harus menanggung penderitaan yang
luar biasa sebagai seorang paus, maka ia dinyatakan sebagai martir. St.
Siprianus wafat lima tahun kemudian dalam masa penganiayaan Valerianus.
Ia dipenggal kepalanya di Kartago pada tanggal 14 September 258. Pesta
kedua orang kudus ini dirayakan bersama-sama untuk mengingatkan kita
akan pentingnya persatuan Gereja. Persatuan Gereja adalah tanda
kehadiran Yesus yang adalah Kepala Gereja.
Marilah berdoa mohon persatuan di antara semua orang yang berbeda budaya, ras, bangsa, maupun agama.
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”


0 komentar:
Posting Komentar