Laurensius
dilahirkan di Venice, Italia, pada tahun 1381. Ibunya kadang-kadang
berpikir bahwa puteranya berkhayal terlalu tinggi. Laurensius selalu
mengatakan kepada ibunya bahwa ia ingin menjadi seorang kudus, seorang
santo. Ketika usianya sembilanbelas tahun, Laurensius merasa bahwa ia
harus melayani Tuhan dengan suatu cara yang istimewa. Ia meminta nasehat
kepada pamannya, seorang imam yang kudus dari komunitas St. George.
“Apakah kamu memiliki keberanian untuk meninggalkan kesenangan duniawi
dan melewatkan hidupmu dengan melakukan silih?” tanya pamannya. Cukup
lama Laurensius tidak menjawab. Kemudian ia menatap salib dan berkata,
“Engkau, oh Tuhan, adalah harapanku. Dalam Salib ada ketenteraman serta
kekuatan.”
Ibunya
menginginkannya untuk menikah, tetapi Laurensius bergabung dengan
komunitas St. George. Tugas pertamanya adalah pergi ke kampung-kampung
di kotanya untuk meminta derma bagi ordonya. Laurensius tidak malu pergi
meminta-minta. Ia tahu bahwa derma uang ataupun barang akan berguna
bagi karya Tuhan. Ia bahkan pergi ke depan rumahnya sendiri dan meminta
derma. Ibunya berusaha mengisi kantongnya dengan banyak makanan agar
Laurensius dapat segera pulang ke biaranya. Tetapi Laurensius hanya
menerima dua potong roti dan pergi ke rumah sebelah untuk meminta derma
lagi. Dengan demikian, ia belajar bagaimana mempraktekkan penyangkalan
diri dan semakin bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan.
Suatu
hari seorang teman datang membujuk Laurensius untuk meninggalkan
biaranya. Laurensius menjelaskan kepada temannya itu betapa singkatnya
hidup dan betapa bijaksananya untuk melewatkan hidup demi surga.
Temannya amat terkesan dan terdorong untuk menjadi seorang religius
juga.
Di
kemudian hari Laurensius diangkat menjadi Uskup, meskipun ia sendiri
kurang senang akan hal itu. Umatnya segera mengetahui betapa lembut hati
dan kudusnya Uskup mereka. Orang berbondong-bondong datang kepadanya
setiap hari untuk memohon pertolongannya. Menjelang ajalnya, St.
Laurensius menolak berbaring di tempat tidur yang nyaman. “Tidak boleh
demikian!” serunya dengan rendah hati. “Tuhanku terentang di kayu yang
keras serta menyakitkan.” St. Laurensius Giustiniani wafat pada tahun
1455.
Bagaimana kehidupan imanku mendorongku untuk menjadi seorang pemberani?
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

0 komentar:
Posting Komentar