
Santa
yang dikagumi ini hidup di Syracuse, Sisilia. Ia dilahirkan pada akhir
abad ketiga. Orangtuanya adalah bangsawan yang kaya raya serta
terhormat. Ayahnya meninggal ketika Lusia masih kecil. Lusia secara
diam-diam berjanji kepada Yesus bahwa ia tidak akan pernah menikah agar
ia dapat menjadi milik-Nya saja. Lusia seorang gadis yang jelita dengan
sepasang mata yang indah. Para pemuda bangsawan jatuh hati kepadanya.
Ibunya mendesaknya untuk menikah dengan salah seorang dari mereka yang
telah dipilihnya bagi Lusia. Tetapi Lusia tidak tertarik. Ia kemudian
memikirkan suatu rencana untuk melunakkan hati ibunya. Ia tahu bahwa
ibunya menderita sakit pendarahan. Lusia membujuknya untuk pergi ke
gereja St. Agatha dan berdoa mohon kesembuhan. Lusia pergi menemaninya
dan mereka berdoa bersama. Ketika Tuhan mendengar doa mereka serta
menyembuhkan ibunya, Lusia mengatakan kepada ibunya tentang ikrarnya
untuk menjadi pengantin Kristus. Sebagai ungkapan rasa terima kasih atas
kesembuhannya, ibunya mengijinkan Lusia memenuhi panggilan hidupnya.
Tetapi pemuda kepada siapa ibunya telah menjanjikan Lusia, amat marah
karena kehilangan Lusia. Dalam puncak kemarahannya, ia melaporkan Lusia
sebagai seorang pengikut Kristus. Ia mengancam hendak membutakan kedua
mata Lusia. Tetapi, Lusia bahkan rela kehilangan kedua matanya daripada
tidak menjadi pengantin Kristus. Dan itulah yang terjadi. Banyak patung
yang kelak dibuat menggambarkan St. Lusia dengan matanya yang indah di
telapak tangannya. Yesus membalas cinta Lusia yang gagah berani. Ia
melakukan mukjizat dengan memulihkan mata Lusia kembali, bahkan jauh
lebih indah dari sebelumnya.
Hakim
yang kafir berusaha mengirim Lusia ke rumah wanita pendosa. Ia berharap
agar Lusia dapat dibujuk untuk mengingkari Kristus. Tetapi ketika
mereka berusaha membawanya ke sana, Tuhan menjadikan tubuh Lusia
demikian berat sehingga mereka tidak dapat mengangkatnya. Pada akhirnya,
Lusia ditikam dan menjadi martir bagi Yesus pada tahun 304.
“Bertautlah
kepada-Nya, kepada Dia yang engkau cari, berpalinglah kepada-Nya dan
temukanlah kebenaran; berpegangteguhlah kepada-Nya, mohon kepada-Nya
untuk tidak bergegas pergi, mohon kepada-Nya untuk tidak
meninggalkanmu.” St. Ambrosius
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”
0 komentar:
Posting Komentar