Venerabilis Marcel Van C.Ss.R.
Adik Rohani St Theresia dari Kanak-kanak Yesus
Yoakim
Nguyên Tan Van dilahirkan pada tanggal 15 Maret 1928 di sebuah desa di
Vietnam Utara (Tonkin). Ayahnya seorang penjahit, ibunya seorang ibu
rumah tangga yang terkadang bekerja di sawah. Ayahnya suka berjudi dan
minum. Ibunya seorang Katolik yang saleh, baik, lemah-lembut dan murah
hati kepada siapa saja. Van mempunyai dua saudara perempuan, Le -
kakaknya, dan Te - adiknya. Van sendiri seorang anak yang lembut dan
perasa, baik hati dan penuh kasih. Sejak masih dini usianya, Van
menunjukkan kesalehan dan devosi yang mengagumkan. Ia biasa bermain
prosesi untuk menghormati Santa Perawan Maria bersama Te,
saudara-saudara sepupu dan teman-teman bermainnya. Ia senang berdoa dan
mendaraskan rosario bersama ibunya.
Ketika
usianya enam tahun, Van diperkenankan menyambut Komuni Kudus yang
Pertama. Di kemudian hari ia menulis mengenai hari bahagia ini:
“Waktunya telah tiba, saat yang begitu dirindukan telah datang… Dengan
hati-hati kujulurkan lidahku untuk menyambut Roti Cinta. Hatiku dikuasai
oleh sukacita yang luar biasa… Dalam sekejap, aku telah menjadi seperti
“setetes air” yang hilang ditelan samudera luas. Sekarang di sana yang
tinggal hanya Yesus, dan aku adalah “bukan apa-apa Yesus yang kecil”.
Sejak hari itu, Van menyambut Komuni Kudus setiap hari. Tak lama
kemudian, ia menyambut Sakramen Tobat. Suatu kerinduan tumbuh dalam
hatinya: “Aku rindu menjadi seorang imam, agar aku dapat mewartakan
Kabar Gembira kepada mereka yang belum mengenal Kristus.”
Ketika
usianya tujuh tahun, Van mulai bersekolah. Akan tetapi guru sekolahnya
sangat keras terhadap para murid, memukuli mereka dengan rotan di setiap
kesempatan. Kesehatan Van pun mulai memburuk: “Dari hari ke hari aku
semakin kurus dan pucat,” demikian tulis Van dalam otobiografinya, “dan
itu karena sistem pendidikan yang sangat keras hingga aku sampai pada
keadaan kepayahan yang begitu rupa.”
Khawatir
akan keadaan puteranya, ibunya mempercayakan Van pada Pastor Yosef Nha,
imam paroki di Huu-Bang. Pastor Nha mengelola sebuah “Wisma Tuhan” yang
adalah sebuah lembaga di mana anak-anak lelaki mulai mengenyam
pelajaran lebih mendalam di bidang agama, sementara melanjutkan
pendidikan mereka dan membantu pastor. Yang paling cakap di antara
mereka akan diperkenankan melanjutkan pendidikan ke Seminari Rendah. Van
sangat senang akan kehidupan barunya ini dan segera menjadi seorang
murid yang cemerlang. Akan tetapi, salah seorang gurunya, Guru Vinh,
kemudian membawa Van ke sebuah kamar pribadi dan menderanya dengan
rotan. Guru Vinh berdalih ia tengah melatih Van dalam apa yang
disebutnya sebagai “kehidupan yang sempurna”. Ia mengancam Van untuk
merahasiakan hal ini. Dua minggu berlalu ketika akhirnya perempuan
tukang cuci pakaian pastor mendapati noda-noda darah di baju Van. Pastor
Nha sadar akan apa yang terjadi dan dengan tegas melarang Guru Vinh
untuk mendekati Van.
Sesekali
Pastor Nha mengajukan Van sebagai teladan bagi para murid katekis yang
suam-suam kuku. Hal ini membangkitkan iri dan dengki dalam diri
murid-murid yang lain. Mereka mengatur semacam pengadilan guna
“mengadili” Van. Setelah mempermalukan Van dengan berbagai macam cara,
mereka mengecamnya karena menyambut Komuni Kudus setiap hari. “Hatiku
galau dan menderita hebat memikirkan bahwa, tanpa memiliki kepantasan
seperti para kudus, aku berani menyambut Komuni setiap hari… Lalu
kesalahan-kesalahan dari masa kecilku terbayang kembali.” Dalam
pencobaan berat ini, Van bertaut erat pada Bunda Maria dan dengan penuh
kekhusukan mendaraskan rosario.
Setiap
malam sesudah Ibadat Sore, para murid katekis akan menggelar
“pengadilan”, menginterogasi dan mendakwa Van, dan sebagai hukuman
mereka akan menderanya dengan rotan atau melucuti pakaiannya. Apabila
Pastor Nha tidak berada di tempat, bersama “Guru”, para murid katekis
ini kerap minum-minum dan mengundang gadis-gadis tetangga menemani
mereka. Pastor Nha sendiri sekarang lebih suka mengalihkan Van dari
pelajaran dan menjadikannya pelayan.
Pada
masa yang sama ini timbul tragedi di rumah. Banjir hebat menghancurkan
serta menghanyutkan sebagian besar harta milik keluarga. Terlebih parah,
ayahnya menghabiskan apa yang masih tersisa untuk mabuk dan berjudi.
Ibu dan kedua saudari Van hidup di bawah garis kemiskinan; kini ibunya
tak lagi mampu mengirimi Van uang ataupun pakaian.
Bersama
beberapa teman, Van meninggalkan “Wisma Tuhan” dengan harapan diterima
di suatu seminari. Tetapi karena tak menemukan seminari ataupun tempat
yang mau menerimanya bekerja, ia terpaksa kembali. Van menghabiskan
sebagian besar waktunya dengan melakukan pekerjaan kasar. Ketika usianya
duabelas tahun, ia menerima sertifikat, tetapi tidak diijinkan
melanjutkan pendidikan. Jadi, ia menghabiskan seluruh waktunya dengan
bekerja.
Karena
tidak tahan dengan suasana di Wisma - alkohol, judi, kata-kata
carut-marut, kehadiran gadis-gadis yang tak tahu malu, pada akhirnya Van
melarikan diri dan pulang ke rumah orangtuanya. Tetapi dihimpit
kemelaratan, keluarga mengembalikan Van ke Huu-Bang. Dua bulan kemudian
Van melarikan diri lagi dan hidup menggelandang sebagai pengemis
jalanan. “Sejak saat itu,” tulisnya, “pekerjaanku adalah menadahkan
tangan kepada mereka yang lewat… Seminggu hidup secara demikian, kulitku
terbakar matahari dan pipiku cekung… Meski demikian aku mendapati hidup
sebagai seorang gelandangan miskin ini sama sekali tidak sulit.
Sebaliknya, aku merasakan suatu damai sukacita dalam menderita bagi
Tuhan. Aku tahu bahwa dengan melarikan diri, aku telah menghindari dosa,
aku telah menghindari apa yang mendukakan Hati Allah.”
“Aku
mulai menganggap diriku sendiri sebagai makhluk yang hina dina. Iblis
membuat pikiran ini berkembang dalam diriku - jika manusia saja tak
dapat tahan denganku, bagaimana mungkin Tuhan masih dapat tahan
denganku? Aku akan segera mati dan aku akan masuk neraka.” Tetapi,
bukannya larut dalam keputusasaan, Van mengarahkan matanya lekat-lekat
pada Yesus dan Santa Perawan Maria yang senantiasa merupakan
pengharapannya; dan ia pun beroleh pengharapan dan damai melalui rosario
yang dengan setia didaraskannya. Suatu hari, ia mendapat kesempatan
untuk membuka hatinya kepada seorang imam yang menguatkannya dengan
perkataan: “Terimalah segala pencobaan ini dengan sukahati dan
persembahkanlah kepada Tuhan. Apabila Tuhan mengirimkan salib kepadamu,
itu merupakan suatu tanda bahwa Ia telah memilihmu.”
Syukurlah,
pada tahun 1942, atas pertolongan seorang teman, Van diterima di
seminari rendah di Lang-Son. Enam bulan kemudian, karena kekurangan
dana, seminari ditutup, tetapi Van dapat melanjutkan pendidikannya di
Paroki St Theresia dari Kanak-kanak Yesus di Quang-Uyên, dalam bimbingan
dua imam Dominikan.
“Kendati
kerinduanku yang besar untuk mencapai kekudusan, aku yakin bahwa aku
tak akan pernah mencapainya, sebab untuk menjadi seorang kudus, orang
harus berpuasa, mendera diri dengan cambuk, mengalungi leher dengan batu
dan membelenggu diri dengan rantai-rantai berduri, mengenakan pakaian
kasar, menahan dingin, kudis dan lain-lain… Allah-ku, jika seperti itu,
aku menyerah… Semuanya itu terlalu berat bagiku.”
Suatu
hari Van menebarkan banyak buku riwayat hidup santa dan santo di atas
meja. Dalam doa ia memohon Tuhan membimbingnya dengan berjanji bahwa ia
akan membaca buku apapun yang diraih tangannya. Lalu, dengan mata
tertutup ia menempatkan tangannya secara acak. “Aku membuka mataku. Di
tanganku ada sebuah buku yang belum pernah aku baca sebelumnya - `Kisah
Suatu Jiwa' oleh St Theresia dari Kanak-Kanak Yesus.” [`Kisah Suatu
Jiwa' di Indonesia diterbitkan dengan judul `Aku Percaya Akan Cinta
Kasih Allah'] Dengan antusias Van membuka lembar-lembar buku itu, namun
karena tak ada sesuatu yang luar biasa, ia enggan membacanya. Tetapi
segera ia mencela diri, `Ah, dengan bertindak seperti ini, engkau telah
melanggar janjimu!' Jadi, aku memungut buku itu kembali dengan kepala
sarat pertanyaan yang bercampur-aduk - `Apakah ini “Kisah Suatu Jiwa”???
Siapakah itu St Theresia dari Kanak-kanak Yesus??? Dari mana asalnya???
Apakah yang membuatnya serupa dengan beribu santa / santo lainnya?'”
Sebagaimana
dijanjikannya, Van mulai membaca. “Aku baru saja membaca beberapa
halaman ketika dua butir airmata mengalir jatuh ke pipi… Apa yang secara
mendalam menggerakkanku adalah permenungan Theresia:
`Jika
Allah membungkuk hanya pada tingkat bunga-bunga yang paling indah,
simbol para Pujangga Kudus, maka Kasih-Nya tak akan begitu sepenuhnya
nyata, sebab adalah kodrat Kasih untuk membungkuk hingga ke batas yang
paling rendah… Sama seperti matahari menyinari sekaligus pohon-pohon
cedar dan setiap bunga kecil seolah dialah satu-satunya yang ada di
bumi, demikianlah Tuhan kita memberikan perhatian pada setiap jiwa
seolah tak ada jiwa lain sepertinya.”
“Maka
mengertilah aku bahwa Allah adalah Kasih… Seperti St Theresia, aku pun
dapat menguduskan diri melalui segala perbuatan kecilku… Senyuman,
sepatah kata atau tatapan, asalkan semuanya dilakukan dalam kasih.
Betapa bahagia!... Mulai dari sekarang, kekudusan tak lagi menakutkanku…
Airmataku mengalir bagai mata air yang tiada habis-habisnya.”
“Siang
itu aku telah menerima suatu sumber rahmat dan kebahagiaan. `Kisah
Suatu Jiwa' telah menjadi sahabat terkasihku dan menyertaiku ke manapun
aku pergi, dan aku tiada henti membaca dan membacanya lagi, tanpa pernah
merasa jemu. Tiada suatu pun dalam buku ini yang tidak selaras dengan
pikiranku, dan yang terlebih lagi menyenangkanku sepanjang membaca buku
ini adalah melihat dengan jelas bahwa kehidupan rohani Theresia identik
dengan kehidupan rohaniku. Pemikiran-pemikirannya, bahkan `ya atau
tidak'-nya sesuai dengan pemikiran-pemikiranku sendiri dan
peristiwa-peristiwa kecil dalam hidupku. Sungguh, tak pernah seumur
hidupku aku menemukan sebuah buku yang begitu selaras dengan pemikiran
dan perasaan-perasaanku sendiri seperti `Kisah Suatu Jiwa'. Dapat kuakui
bahwa kisah jiwa Theresia adalah kisah jiwaku….”
Keesokan
paginya, Van bangun dan berlutut di hadapan altar Santa Perawan Maria.
Ia memanjatkan doa: “… Santa Perawan, Bundaku. Hari ini adalah sungguh
hari pertama aku diperkenankan mencicipi kebahagiaan yang manis begitu
rupa; hari yang memperkenalkanku pada suatu jalan baru… Mulai dari
sekarang, ya Bundaku, sudi bimbinglah aku di jalan baruku; ajarilah aku
untuk mengasihi Allah dengan sempurna dan untuk mempersembahkan diriku
kepada-Nya dalam kepercayaan penuh. Aku berani mengungkapkan suatu
pengharapan kepadamu: Agar kiranya aku dibalut dalam kasihmu,
sebagaimana Thereisa dulu, si Bunga Kecil. Aku bahkan berharap engkau
memberikan Santa ini kepadaku sebagai pembimbingku dalam `Jalan
Kecil'-nya. Oh betapa bahagia jadinya aku sebab aku merasa bahwa hidupku
tak dapat terlepas dari perasaan kanak-kanak yang telah Allah pahatkan
dalam jiwaku sebagai suatu anugerah lahir.”
Kemudian,
berpaling kepada Yesus, ia berdoa: “Ya Yesus, Guru-ku satu-satunya yang
terkasih, Engkau tahu bahwa aku mengasihi-Mu dan hanya menghendaki
menanggapi kehendak-Mu. Engkau telah membangkitkan dalam budiku
kerinduan untuk menjadi seorang kudus. Maka, Engkau membuatku menemukan,
dengan suatu cara yang amat sederhana, `Jalan Kecil' dengan mana Engkau
membimbing St Theresia dari Kanak-kanak Yesus. Engkau telah menggunakan
tangan santa kecil ini untuk menulis demi kepentingan jiwa-jiwa,
nasehat-nasehat manis dengan mana Engkau telah menghantarnya di jalan
kecilnya. Pada hari ini, aku tahu bahwa Engkau mengasihiku, dan bahwa
dalam kasih-Mu yang dahsyat Engkau memperlakukanku sebagai seorang
kanak-kanak kecil. Ah, betapa Engkau layak mendapatkan balasan cinta!
Mulai dari sekarang aku telah memutuskan untuk mengikuti jejak
langkah-Mu sebagaimana Engkau kehendaki, dan agar setiap langkahku
selaras dengan kehendak-Mu, aku mohon, ya Tuhan-ku, agar kiranya Engkau
menganugerahiku rahmat ini: Berikanlah St Theresia dari Kanak-kanak
Yesus sebagai pembimbingku, agar dengan demikian ia dapat mengajariku
untuk mengasihi-Mu sebagaimana seharusnya, sebab aku sama sekali bodoh.
Anugerahilah juga aku rahmat untuk berkanjang dalam kasih-Mu hingga
titik terakhir, sehingga sesudahnya boleh mengasihi-Mu sepanjang
kekekalan masa, di tanah air kasih yang diperuntukkan bagi mereka yang
mengasihi-Mu.”
Segera
sesudah itu, Van berjalan kaki ke sebuah bukit terdekat.
Sekonyong-konyong, dalam keheningan, ia dikagetkan oleh suara yang
memanggilnya. “Van, Van, adikku terkasih!” Tapi tak ada seorang pun dekatnya! Suara itu kembali memanggil: “Van, Van, adikku terkasih!”
“Aku terpana dan sedikit takut, tetapi aku tetap tenang dan segera
dapat menebak bahwa suara yang memanggilku ini adalah suara adikodrati -
maka aku berteriak atau berseru dalam luapan sukacita - `Oh, saudariku
Theresia!' -
`Ya,
ini sungguh saudarimu, Theresia… Mulai dari sekarang engkau secara
pribadi akan menjadi adikku, sebagaimana engkau telah memilihku untuk
menjadi kakakmu… Mulai dari hari ini, kedua jiwa kita akan berpadu
menjadi hanya satu jiwa, dalam kasih Allah yang satu… dari saat ini aku
akan memberitahukan kepadamu segala pemikiran-pemikiranku yang indah
tentang kasih yang muncul dalam masa hidupku, dan yang telah mengubahku
dalam kasih Allah yang tak terhingga… adalah Allah Sendiri yang telah
mengatur perjumpaan ini. Allah menghendaki pelajaran-pelajaran mengenai
kasih yang Ia ajarkan kepadaku sebelumnya dalam rahasia jiwaku, hidup di
dunia ini, dan Ia telah berkenan memilihmu sebagai seorang sekretaris
kecil untuk melaksanakan karya-Nya, yang seturut kehendak-Nya Ia
percayakan kepadamu….”
“…
Allah Bapa kita memelihara bahkan detail-detail terkecil dalam hidup
kita… Allah adalah Bapa dan Bapa ini adalah Kasih. Kebajikan dan
kelembutan-Nya tak terhingga… Tetapi sejak hari leluhur pertama kita
jatuh dalam dosa, ketakutan telah menguasai hati manusia dan telah
merenggut darinya pemikiran akan Allah yang adalah Bapa kita yang baik
tak terhingga… Maka Allah mengutus PutraNya… Yesus datang untuk
memberitahukan kepada saudara-saudara-Nya di dunia bahwa kasih Bapa
adalah sumber yang tiada habis-habisnya… Kita sungguh teramat beruntung
menjadi anak-anak Allah. Marilah kita mengucap syukur atas ini dan tak
pernah menyerah pada ketakutan yang berlebihan… Jangan pernah takut pada
Allah. Ia sepenuhnya adalah Bapa Mahapengasih. Ia hanya tahu bagaimana
mengasihi, dan Ia rindu dikasihi sebagai balasnya… Janganlah takut
berbicara akrab kepada Allah seperti kepada seorang sahabat. Katakan
kepada-Nya semua yang ada di benakmu - permainan kelerengmu, panjat
gunung, olok-olok temanmu, kemarahanmu, airmatamu, atau
kesenangan-kesenangan kecil yang datang sekilas….”
“Tetapi kakak, Allah sudah tahu semuanya itu.”
“Benar,
adik… Akan tetapi, demi memberi dan menerima cinta, Ia harus membungkuk
dan Ia melakukan ini seolah Ia lupa bahwa Ia tahu semuanya, dengan
harapan mendengar suatu kata akrab meluncur dari hatimu.”
“Apabila
engkau merasakan sukacita, persembahkanlah kepada-Nya sukacita ini yang
membesarkan hatimu, dan dengan berbuat demikian engkau akan meneruskan
sukacitamu kepada-Nya. Adakah gerangan kebahagiaan yang terlebih besar
selain dari pasangan yang saling mengasihi dan berbagi segala yang
mereka miliki? Bertindak dengan cara ini terhadap Allah adalah
mengatakan `terima kasih' kepada-Nya, yang menyenangkan-Nya lebih dari
ribuan madah yang menggetarkan hati. Jika sebaliknya, engkau dikuasai
kesedihan, katakan lagi kepada-Nya dengan hati yang jujur: `Ah,
Allah-ku, aku sungguh sedih' dan mohon pada-Nya untuk membantumu
menerima kesedihan ini dengan sabar. Percayalah ini: Tiada suatu pun
yang dapat terlebih menyenangkan Allah yang baik selain dari melihat di
dunia ini sebentuk hati yang mengasihi-Nya, dan yang tulus kepada-Nya
dalam setiap langkah, dan dalam setiap senyuman; pula dalam setiap
airmata, dalam kesenangan-kesenangan kecil sesaat.”
Penampakan
pertama St Theresia dari Kanak-kanak Yesus ini berlangsung beberapa
waktu lamanya. [Pesan-pesan selengkapnya dapat dibaca dalam “Otobiografi
Marcel Van.”]
Sebelum meninggalkan Van dalam penampakan pertama ini, St Theresia mengatakan: “Aku
mengasihimu sebab engkau adalah jiwa yang adalah warga sahabat-sahabat
Kasih. Bagimu adikku, satu-satunya harapanku adalah melihat digenapinya
karya-karya yang begitu dikehendaki Kasih Ilahi bagimu. Jadi, adik,
dengarkan aku: mulai sekarang dalam hubunganmu dengan Bapa Surgawi kita,
janganlah lalai mentaati nasehatku. Sekarang, hari mulai malam, jadi
ijinkan aku mengakhiri percakapan kita sampai di sini, sebab waktu makan
telah tiba. Tam dan Hien menantimu, dan Tam sudah mulai tak sabar… Aku
memberimu kecupan… Kita akan punya banyak kesempatan untuk
berbincang-bincang bersama lagi. Dan kita dapat melakukannya di manapun,
tanpa khawatir orang akan mengetahuinya.”
“Theresia
berhenti berbicara, dan aku seperti seorang yang bangun dari mimpi;
setengah khawatir dan setengah bahagia; dan ketika ia mengatakan `Aku memberimu kecupan',
sekonyong-konyong aku merasa seolah suatu hembusan lembut menyentuh
wajahku. Dan aku dikuasai sukacita begitu rupa hingga untuk sekejap aku
kehilangan kesadaran. Sebagian dari sukacita manis ini masih tinggal
bersamaku hingga hari ini, tetapi aku tidak tahu bagaimana
membandingkannya dengan tepat.”
St Theresia menjadi sahabat dekat dan pembimbing rohani Van, yang dengan akrab membimbingnya dalam kehidupan rohani.
Sejak
dari masa kecil, Van selalu yakin bahwa ia dipanggil untuk menjadi
seorang imam. “Untuk itu,” tulis Van, “aku telah berkurban dalam banyak
hal dengan membebankan pada diriku banyak perbuatan rohani dan jasmani.”
Tetapi suatu hari St Theresia berkata kepadanya,
“Van,
adikku, ada suatu hal penting yang perlu kusampaikan kepadamu… Tetapi
ini akan membuatmu sangat sedih… Allah telah menyatakan kepadaku bahwa
engkau tidak akan menjadi seorang imam.”
Mendengar ini Van mulai menangis, “Aku tak akan pernah bisa hidup jika aku tidak menjadi seorang imam….”
“Van,
jika Allah menghendaki kerasulanmu dilaksanakan dalam bidang lain,
bagaimanakah pendapatmu?... Apa yang paling sempurna adalah melakukan
kehendak Bapa kita di surga… Di atas segalanya kau akan menjadi seorang
rasul melalui doa dan kurban, seperti aku sendiri dulu.”
St Theresia lalu mengarahkan pandangan Van pada suatu baris yang amat penting dalam Kisah Suatu Jiwa:
`Aku
mengerti bahwa kasih saja yang menempatkan anggota-anggota Gereja dalam
karya… Aku mengerti bahwa Kasih mencakup segala panggilan, bahwa Kasih
adalah segalanya, yang merengkuh segala waktu dan segala tempat… Singkat
kata, bahwa Kasih itu Abadi.”
“Theresia, saudariku, panggilan tersembunyi apakah ini jika aku tidak menjadi imam?”
“Kau akan masuk biara di mana engkau akan membaktikan dirimu kepada Allah.”
Suatu
malam di musim dingin pada tahun 1942-1943, Van mendapatkan suatu mimpi
misterius. “Aku melihat seseorang masuk menuju kepala pembaringanku…
Orang ini sepenuhnya terbalut dalam jubah hitam, agak tinggi dan
wajahnya mencerminkan kebaikan yang luar biasa… Ia mengajukan pertanyaan
kepadaku, `Nak, apakah kau mau…?' Tetapi sebelum pertanyaan berakhir, spontan aku menjawab `Ya.'”
Beberapa
hari kemudian, Van mendapati sebuah patung yang sama seperti orang yang
mendatanginya dalam mimpi. Itulah patung St Alfonsus Liguori, pendiri
Redemptoris. St Theresia menegaskan panggilannya untuk menjadi seorang
broeder Redemptoris.
“Adik,
engkau akan menemui onak duri di sepanjang jalan, dan langit yang
sekarang tenang akan diliputi awan gelap… Engkau akan mencucurkan
airmata, engkau akan kehilangan sukacitamu dan engkau akan seperti
seorang yang diturunkan ke keputusasaan… Tetapi ingatlah bahwa dunia
memperlakukan Yesus seperti itu dan bahwa seorang Redemptoris serupa
dengan Juruselamat-nya… Meski begitu, jangan takut. Dalam badai ini,
Yesus akan terus tinggal dalam perahu jiwamu… Adik, engkau tidak akan
lagi mendengarku berbicara begitu akrab denganmu seperti sekarang.
Janganlah berpikir bahwa aku meninggalkanmu. Sebaliknya, aku terus
tinggal dekatmu seperti seharusnya seorang kakak… Di dunia ini,
penderitaan merupakan bukti kasihmu, dan penderitaan memberikan pada
kasihmu segala makna dan nilai.”
Van
diterima di Biara Redemptoris di Hanoi pertama-tama sebagai pembantu
rumah tangga dan, pada tanggal 17 Oktober 1944 ia diterima sebagai
postulan dengan nama Broeder Marcel. Hari sesudah profesi religius,
Marcel Van mendengar Yesus berkata kepadanya: “Anak-Ku, demi kasih kepada umat manusia, persembahkanlah dirimu kepada-Ku, agar mereka dapat diselamatkan.”
Perkataan ini meneguhkan nilai penderitaan yang dipersatukan dengan
penderitaan Kristus. Broeder Marcel menulis: “Yesus hendak mempergunakan
tubuhku untuk menanggung penderitaan, penghinaan dan kepayahan, agar
api kasih yang membakar Hati Ilahi-Nya dapat ditularkan kepada hati
segenap manusia di bumi.”
Mulai
dari masa novisiat, atas permintaan pembimbing rohani, Broeder Marcel
menulis otobiografi. Selama dua tahun ia dianugerahi
percakapan-percakapan rohani yang akrab mesra dengan Yesus, Maria dan St
Theresia. Tetapi pada tanggal 9 September 1946, sehari sesudah kaul
pertama, Yesus mengatakan kepadanya, “Anak-Ku,
bagianmu sekarang adalah mengurbankan saat-saat keakraban manis
bersama-Ku, dan membiarkan-Ku pergi mencari para pendosa… Kemudian, Van
kecil-Ku, ketahuilah bahwa engkau akan menderita karena Superior dan
Saudara-saudaramu. Akan tetapi pencobaan-pencobaan ini akan menjadi
tanda bahwa engkau menyenangkan Hati-Ku. Aku memohon semua penderitaan
ini demi mempersatukanmu kepada-Ku dalam karya pengudusan para imam.”
Broeder
Marcel mengerti bahwa misinya adalah berdoa dengan suatu cara yang
istimewa bagi para imam dan para calon imam. Sebagaimana ia sendiri
mengatakan: “Aku mengerti bahwa misi yang Tuhan percayakan kepadaku amat
penting, yakni memberikan nyawa kepada para imam… Allah membutuhkan
kerjasama dari jiwa-jiwa tertentu untuk melahirkan di kalangan para imam
kelimpahan rahmat ilahi yang akan membantu mereka untuk hidup dan untuk
bertindak selaras dengan kehendak Allah.” (Surat kepada Hghi, 23 Juli
1952).
“Ya,
inilah dahaga unik hidupku, dan sebab dahaga ini, aku telah mengenakan
pada diriku sendiri kewajiban untuk menjadi “jantung” para imam,
menggunakan kehangatan kasih dan sumber kasih penebusan untuk berdetak
dan untuk memberi hidup kepada para imam.
Tak
lama, segeralah datang “malam kelam jiwa” Broeder Marcel. Sebagian
besar rahmat mistik dan penghiburan lenyap dan hanya kurban membosankan
yang masih tinggal dalam iman yang murni.
Pada
tahun 1950, Broeder Marcel dikirim ke Saigon, dan kemudian ke Dalat.
Pada bulan Juli 1954, Vietnam Utara dikuasai Komunis. Banyak umat
Katolik mengungsi ke Selatan. Beberapa biarawan Redemptoris tetap
tinggal di biara di Hanoi untuk melayani umat Kristiani yang masih
tinggal. Broeder Marcel paham bahwa Yesus memintanya untuk menggabungkan
diri bersama mereka. “Aku pergi ke sana (Hanoi),” tulisnya, “agar ada
seorang yang mengasihi Allah di tengah-tengah kaum Komunis.” Beberapa
minggu sesudahnya, ia menulis kepada saudarinya Anna-Maria: “Cukup
sering aku dikuasai kepedihan, dan aku hanya berpikir, `Oh, andai saja
aku tak datang ke Hanoi… Tetapi ada desakan yang begitu kuat dalam suara
Yesus!”
Pada
hari Sabtu, 7 Mei 1955, sementara dalam perjalanan ke pasar, Broeder
Marcel ditangkap dan digiring ke kantor investigasi kriminal, lalu
dijebloskan ke dalam penjara. Lima bulan kemudian, ia dipindahkan ke
penjara pusat di Hanoi, di mana ia bertemu dengan banyak umat Katolik
dan para imam. Broeder Marcel menulis kepada Superiornya: “Andai aku
ingin hidup, mudah saja bagiku. Aku hanya perlu mendakwa Anda. Tetapi
jangan khawatir, aku tak akan pernah berbuat demikian.” Kepada Bapa
Pengakuan ia menulis: “Bulan-bulan terakhir ini aku harus berjuang
segigih mungkin dan menanggung segala siksa cuci otak. Para musuh
mempergunakan berbagai muslihat untuk membuatku menyerah, tetapi aku tak
akan membiarkan kelengahan barang sedikitpun.” Dan kepada saudarinya:
“Tak seorang pun akan dapat merenggut senjata kasih dariku. Tiada derita
yang mampu menyingkirkan senyum kasih yang aku biarkan menghiasi wajah
tirusku, Dan untuk siapakah gerangan senyumku, jika bukan untuk Yesus,
sang Kekasih hati? … Aku adalah kurban Kasih, dan Kasih adalah segala
kebahagiaanku - suatu kebahagiaan yang tak dapat dimusnahkan….”
Setahun
sesudah penangkapannya, Broeder Marcel muncul di hadapan pengadilan di
Hanoi dalam keadaan tenang dan penuh penguasaan diri. Pengadilan
menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara dalam sebuah kamp “pendidikan
ulang”. Ia dibawa ke Kamp No 1, di mana ia menjumpai banyak umat
Katolik. “Aku sangat sibuk, seperti seorang imam paroki kecil. Di
samping jam-jam kerja paksa, aku harus terus-menerus menyambut mereka
yang datang silih berganti mencari penghiburan dariku… Tuhan Sendiri
membuatku tahu bahwa aku melakukan kehendak-Nya di sini. Berulang kali,
aku memohon kepada-Nya anugerah mati dalam kamp ini, tetapi setiap kali,
Ia menjawabku: `Aku siap mengikuti
kehendakmu sebagaimana engkau senantiasa mengikuti kehendak-Ku, tetapi
ada jiwa-jiwa yang masih membutuhkanmu…'” Setiap kali Broeder Marcel berserah diri pada kehendak Allah.
Pada
bulan Agustus 1957, Broeder Marcel Van dipindahkan ke Kamp No 2.
Setelah suatu upaya meloloskan diri demi mendapatkan Hosti yang sudah
dikonsekrir, ia ditangkap kembali, didera, dan dipenjarakan dalam sel
yang kumuh dan pengap. Segalanya menjadi lebih sulit bagi - tak ada lagi
kunjungan-kunjungan, tak ada lagi surat, dan di awal 1958 ia mulai
melewatkan hidupnya dalam belenggu, seorang diri, tanpa dukungan dan
tanpa penerangan, terkecuali terang yang memancar dalam hatinya.
Tubuhnya habis digerogoti tuberculosis dan beri-beri. Broeder Marcel Van
pun menyerahkan jiwanya kepada Tuhan tengah hari pada tanggal 10 Juli
1959, dalam usia 31 tahun. Pengajuan Beatifikasi Broeder Marcel Van
sebagai seorang pengaku iman dibuka pada tanggal 26 Maret 1997 di
Keuskupan Belley-Ars, Perancis.
“Kasih
tak dapat mati, melainkan terus mengasihi tanpa mengenal
batasan-batasan waktu. Ah, andai saja aku dapat mati karena kasih! Aku
telah melakukan tindak persembahan diri yang total, dan tindak ini telah
diterima….”
~ Venerabilis Marcel Van
“Wahai
jiwa-jiwa berdosa… satu-satunya yang Aku minta darimu, dan yang cukup
bagi-Ku untuk mendekapkanmu pada Hati-Ku yang bernyala-nyala, adalah
agar engkau sungguh percaya bahwa Kasih mengasihimu secara tak
terhingga. Sayangnya, anak-anak kecil, adakah kalian percaya bahwa Aku
tak mengetahui betapa malangnya kalian? Bahkan meski kemalanganmu tak
terhingga, kalian harus percaya bahwa jasa-jasa-Ku juga tak terhingga.
Bahkan meski dosa-dosamu telah mengganjarimu neraka bagimu
berulang-ulang kali hingga tak terbatas, janganlah engkau, karena semua
itu, kehilangan kepercayaan kepada Kasih-Ku. Malangnya adalah manusia
tidak memiliki kepercayaan kepada Kasih-ku. Oh! Dosa! Dosa! Dosa tak
pernah melukai Kasih-Ku; sama sekali tak ada yang melukai Kasih-Ku,
terkecuali kurangnya kepercayaan kepada Kasih-Ku….
Marcel!
Marcel! Broeder kecil, berdoalah agar jiwa-jiwa berdosa, yang begitu
banyak jumlahnya, tak pernah kehilangan kepercayaan kepada Kasih-Ku.
Selama mereka memelihara kepercayaan ini, Kerajaan Surga sungguh tak
berhenti menjadi milik mereka.”
“Seberkas
kepercayaan kepada-Ku cukuplah untuk merenggut jiwa-jiwa berdosa dari
cengkeraman iblis. Bahkan meski suatu jiwa mendapati dirinya sudah
berada di ambang pintu gerbang neraka, menanti desahan terakhirnya
sebelum jatuh ke dalam neraka, jika dalam desahan terakhir ini ada
barang sedikit saja unsur kepercayaan kepada Kasih-Ku yang tak
terhingga, itu akan cukuplah bagi Kasih-Ku untuk menarik jiwa itu ke
dalam pelukan Tritunggal Mahakudus. Itulah sebabnya mengapa Aku katakan
bahwa adalah sangat mudah bagi manusia untuk pergi ke surga dan bahkan
sulit tak terhingga untuk masuk ke dalam neraka, sebab Kasih tak dapat
pernah membiarkan suatu jiwa kehilangan dirinya begitu mudah.”
Dalam Misa Natal 1945, Van melihat Yesus yang sungguh teramat elok. Ia bertanya kepada-Nya:
“Ah
Yesus, siapakah gerangan yang mendandanimu dengan pakaian yang begitu
indah? Dan siapakah yang membuat pakaian-pakaian indah ini untuk-Mu?”
“Marcel,
engkau katakan bahwa Aku berpakaian indah? Dan siapakah yang dapat
mendanani-Ku dengan begitu indah jika bukan engkau, Marcel?”
“Tetapi Yesus, aku tak pernah tahu bagaimana membuat pakaian untuk-Mu.”
“Kalau
begitu, Marcel, tanyakanlah kepada saudarimu Theresia untuk mengetahui
siapakah yang mendandani-Ku begitu baik dengan memberi-Ku
pakaian-pakaian yang begitu cantik.”
“Saudariku Theresia, bukankah SP Maria yang membuat pakaian-pakaian ini untuk Yesus?”
“Pakaian-pakaian
ini, bukan SP Maria ataupun aku yang membuatnya. Jadi, coba terka siapa
kira-kira… Adik, kau yang membuatnya! Sementara aku, aku hanya
membantumu membuatnya, dan engkau sendiri yang mendandani Yesus
dengannya.”
“Apakah yang telah aku lakukan untuk membuat pakaian-pakaian indah ini?”
Pertama-tama,
adikku terkasih, biarlah aku memberimu sebuah kecupan. Dan sekarang,
inilah jawabanku. Dengarkan aku baik-baik. Tiap-tiap desahan yang kau
hela karena penderitaan yang kau tanggung sepanjang minggu-minggu
terakhir ini, tiap-tiap desahan ini cukuplah untuk menjadikan sehelai
wool atau sekuntum bunga; jadi aku mempergunakan helaian-helaian wool
yang engkau tenun setiap hari dengan penderitaanmu ini, seperti
bunga-bungaan yang engkau petik, untuk merajut pakaian-pakaian indah ini
bagi Yesus. Adakah engkau mengerti, adik? Dan adakah membuatmu bahagia
melihat Yesus dengan pakaian-pakaian yang begitu indah? Jika sekarang
pakaian-pakaian Yesus telah begitu indah, maka pakaian-pakaian itu akan
menjadi terlebih lagi indah pada hari persatuanmu dengan-Nya. Darimana
keindahan ini berasal, tak perlulah kau khawatir tentangnya. Sekarang
sesudah Yesus memberimu kecupan-kecupan-Nya, pertama-tama renungkanlah
untuk tinggal dalam sukacita dan halaulah segala pikiran kesedihan dan
kecemaran. (Marcel Van, Colloques p.98, Preface from Cardinal Schoenborn, Ed. Saint-Paul)
Sumber: 1.“The Servant of God, Brother Marcel Van C.Ss.R. (Redemptorist)”; www.mysticsofthechurch.com; 2.“Marcel Van: A Soul for Priests
by Father Mark”; 3. berbagai sumber
Diperkenankan menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”



0 komentar:
Posting Komentar