16 Agustus
|
Paus
Sylvester II mengirimkan sebuah mahkota raja yang indah bagi Stefanus.
Pusaka ini kemudian dikenal sebagai Mahkota St. Stefanus. Dalam masa
Perang Dunia II, tentara Amerika merampas mahkota tersebut, tetapi
akhirnya diserahkan kembali pada Hungaria pada tahun 1978.
Stefanus
seorang pemimpin yang tegas serta gagah berani. Ia menerapkan hukum
yang adil. Namun demikian, ia juga lemah lembut serta penuh belas
kasihan kepada mereka yang miskin. Sebisa-bisanya ia menghindari
peperangan. Ia suka memberi bingkisan uang kepada para pengemis tanpa
memberitahukan kepada mereka siapa dia sebenarnya. Suatu ketika ia
sedang membagikan bingkisan dalam penyamarannya, ketika sekelompok
pengemis yang brutal menyerang serta memukulnya. Mereka menarik-narik
rambutnya, jenggotnya serta merampas kantong uangnya. Tak pernah
terbayangkan oleh mereka bahwa mereka sedang mempermainkan raja mereka.
Dan mereka tidak pernah tahu akan hal itu. Raja menerima segala
penghinaan itu dengan diam-diam dan dengan rendah hati. Sekuat tenaga ia
mengarahkan pikirannya pada Bunda Maria dan berdoa: “Lihatlah, Ratu
Surgawi, bagaimana umatmu memperlakukan dia yang engkau jadikan raja.
Jika mereka musuh-musuh iman, aku tahu apa yang harus aku lakukan
terhadap mereka. Tetapi, karena mereka adalah kesayangan Putera-mu, aku
menerima ini semua dengan sukacita. Aku mengucap syukur karenanya.”
Malahan, seketika itu juga Raja Stefanus berjanji untuk berderma lebih
banyak lagi bagi para pengemis. Stefanus menjadi raja Hungaria selama
empatpuluh dua tahun. Ia wafat pada tanggal 15 Agustus 1038. St.
Stefanus dinyatakan kudus oleh Paus St. Gregorius VII pada tahun 1083.
Raja
Stefanus seorang yang lemah lembut, penuh belas kasihan dan suka
memberi bingkisan kepada para pengemis tanpa memberitahukan kepada
mereka siapa dia sebenarnya. Pada hari ini, apakah yang harus aku
lakukan untuk menjawab panggilanku mengasihi sesama tanpa pamrih?
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”
0 komentar:
Posting Komentar