23 September
|
Orangtua
Tekla yang kafir melakukan segala daya upaya agar ia meninggalkan iman
Kristianinya, tetapi ia tetap teguh. Tunangannya, Thamyris, memohon
kepadanya untuk tidak membatalkan pertunangan mereka. Tetapi, tekad
Tekla sudah bulat. Ia ingin menjadi pengantin Kristus. Pada akhirnya,
karena amat marah, Thamyris mengadukan Tekla ke pengadilan. Tekla tidak
juga mau mengingkari cintanya kepada Yesus, karenanya ia dijatuhi
hukuman dengan dibakar sampai mati. Gadis cantik tersebut dengan berani
menyongsong maut. Namun, dikisahkan bahwa segera setelah api dinyalakan,
datanglah badai dari surga untuk memadamkannya. Kemudian Tekla dijatuhi
hukuman mati dengan dijadikan mangsa singa-singa yang kelaparan. Namun
demikian, sekali lagi Tuhan menyelamatkan nyawa Tekla. Bukannya
menerkam, binatang-binatang buas itu malahan mendekatinya dengan jinak,
berbaring di sisinya, lalu menjilati kaki Tekla, bagaikan anak kucing
saja. Pada akhirnya, karena ketakutan, hakim membebaskan Tekla. Tekla
mengasingkan diri ke sebuah gua di mana ia tinggal seumur hidupnya. Ia
berdoa serta mewartakan Tuhan Yesus kepada orang-orang yang datang
mengunjunginya.
Bagi
Tekla, diperlukan suatu keberanian besar untuk mengikuti panggilan
hidupnya dan panggilan Yesus. Bagaimana aku ditantang untuk mengikuti
panggilan hidupku?
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”
0 komentar:
Posting Komentar