St. Yuliana dari Liège
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
St
Yuliana dilahirkan pada tahun 1193 di Retinnes, dekat Liège, Belgia.
Ketika usianya lima tahun, kedua orangtuanya meninggal dunia dan ia
bersama saudarinya - Agnes - diserahkan dalam asuhan Suster-suster
Agustinian dari Gunung Cornillon. St Yuliana mengalami kemajuan pesat.
Ia suka sekali membaca tulisan-tulisan St Agustinus dan St Bernardus.
Ia juga memiliki kasih yang berkobar kepada Santa Perawan Maria dan
Sengsara Yesus, tetapi, teristimewa ia sangat mengasihi Yesus dalam
Sakramen Mahakudus. St Yuliana menerima jubahnya pada tahun 1206, saat
usianya tigabelas tahun. Ia bertekad untuk membaktikan hidupnya demi
melayani mereka yang sakit, teristimewa para penderita kusta yang
dirawat di rumah sakit biara.
Ketika
usianya enambelas tahun, St Yuliana mulai mendapatkan anugerah
penglihatan. Ia melihat bulan di langit; dan walau bulan bersinar terang
gemilang, namun terdapat suatu noda hitam padanya! St Yuliana tidak
terbiasa melihat hal-hal yang demikian. Ia pikir, penglihatan tersebut
hanyalah imajinasinya belaka, jadi ia berusaha melupakannya. Tetapi,
penglihatan itu datang dan datang lagi. Merasa bahwa penglihatan
tersebut berasal dari Tuhan, ia menceritakannya kepada Superior, Sr
Sapientia, namun tidak mendapatkan tafsirannya.
Akhirnya
setelah lama berdoa dan bermatiraga, Yesus Sendiri menjelaskan makna
penglihatan. Ia berkata, “Engkau gelisah karena penglihatan itu.
Sesungguhnya, Aku menghendaki agar ditetapkan suatu hari raya istimewa
bagi Gereja Pejuang, sebab perayaan ini teramat penting, yaitu Hari Raya
Sakramen dari Altar yang Mahamulia dan Mahakudus. Pada masa sekarang,
perayaan akan Misteri ini hanya dilakukan pada hari Kamis Putih. Tetapi,
pada hari itu, teristimewa Sengsara dan Wafat-Ku yang direnungkan.
Sebab itu, Aku menghendaki suatu hari lain dikhususkan, di mana Sakramen
Mahakudus dari Altar akan dirayakan oleh segenap umat Kristiani! Alasan
pertama mengapa Aku menghendaki hari raya khusus ini adalah agar iman
akan Sakramen Mahakudus diperteguh, terutama apabila orang-orang jahat
menyerang misteri ini di kemudian hari. Alasan kedua adalah agar umat
beriman diperkuat dalam mencapai kesempurnaan melalui kasih mendalam dan
sembah sujud kepada Sakramen Mahakudus. Alasan ketiga adalah agar
supaya dengan hari raya ini dan dengan cinta kasih yang ditujukan kepada
Sakramen dari Altar, silih dilakukan bagi penghinaan dan kurangnya rasa
hormat terhadap Sakramen Mahakudus.”
Yesus
juga menjelaskan bahwa bulan melambangkan Gereja yang begitu terang
gemilang dengan berbagai macam perayaan. Noda hitam menunjukkan bahwa
ada yang kurang, yaitu perayaan demi menghormati Sakramen Mahakudus
secara khusus. Tuhan Yesus memberinya misi agar hari raya istimewa ini
dirayakan oleh Gereja. Tetapi, St Yuliana adalah seorang biarawati yang
sangat sederhana, dan ia gemetar membayangkan misi yang harus
diembannya. Selama bertahun-tahun St Yuliana memendam rahasia ini. Ia
melewatkan tahun-tahun yang berlalu dengan berdoa dan bermatiraga,
menanti Tuhan memberinya perintah yang lebih tegas untuk memulai
misinya.
Pada
tahun 1230, St Yuliana dipilih sebagai Moeder Superior Biara
Agustinian. Segera sesudah pengangkatannya, penglihatan tentang bulan
dengan noda hitam datang kembali. Moeder Yuliana memutuskan untuk
menceritakan rahasianya kepada seseorang yang dapat memberinya nasehat
bijak.
Ada
seorang rohaniwan dari Lausanne yang baik dan saleh di Liège bernama
Yohanes. Ia memiliki cinta yang berkobar kepada Ekaristi Kudus. St
Yuliana mempercayakan penglihatannya kepada imam kudus ini sembari mohon
untuk membicarakannya dengan para teolog bijak lainnya. Pastor Yohanes
segera menceritakannya kepada beberapa teolog terpandang. Mereka
menyukai gagasan hari raya baru demi menghormati Sakramen Mahakudus.
Banyak uskup juga merestuinya.
Roger,
pembesar yang bertanggung jawab atas biara, merasa sebal dengan
kesalehan dan kekudusan St Yuliana. Roger adalah seorang yang licik,
yang memperoleh jabatan melalui persekongkolan dan suap. Ia menuduh St
Yuliana menggelapkan dana biara. Ia bahkan menghasut penduduk kota agar
menuntut Moeder Yuliana diusir dari kota mereka. St Yuliana melarikan
diri ke tempat Beata Eva dari Liège, lalu ke sebuah rumah yang
disediakan oleh Yohanes dari Lausanne. Uskup Robert de Thorate dari
Liège memerintahkan agar kasus ini diperiksa, dan terbukti bahwa
tuduhan-tuduhan itu palsu. St Yuliana yang tak bersalah dikembalikan ke
posisinya semula di biara, sementara Roger dipecat dari jabatannya.
St
Yuliana mengajukan gagasan hari raya demi menghormati Sakramen
Mahakudus ke hadapan Uskup Robert de Thorete, kepada Dominikan Hugh yang
terpandang - yang kelak menjadi duta paus di Nederland, dan kepada
Jacques Pantaléon - Diakon Agung Liège, yang kelak menjadi Paus Urbanus
IV. Bapa Uskup sungguh terkesan akan gagasan yang diajukan St Yuliana,
dan karena para uskup berhak menetapkan pesta-pesta di keuskupan mereka,
maka ia mengadakan Sinode pada tahun 1246 dan menginstruksikan kepada
segenap imam, baik projo maupun biarawan, agar mulai tahun berikutnya
merayakan Pesta Sakramen Mahakudus. Sungguh sayang, uskup yang baik ini
wafat tak lama kemudian, pada tanggal 16 Oktober 1246, sebelum sempat
menyaksikan instruksinya dilaksanakan.
Hari
Raya Sakramen Mahakudus untuk pertama kalinya dirayakan oleh para imam
dan segenap umat beriman di Gereja St Martin, Liège. Seorang biarawan
muda bernama Yohanes diminta untuk menuliskan beberapa doa Ofisi baru
untuk hari raya ini. Doa-doa Ofisi tulisannya didaraskan di Gereja St
Martin selama bertahun-tahun hingga saat St Thomas Aquinas menuliskan
Ofisinya yang terkenal.
Setelah
Uskup Liège wafat, pada tahun 1247, Roger kembali berkuasa. Sekali lagi
ia berhasil mengusir St Yuliana. Biarawati kudus ini melarikan diri dan
diterima di Biara Salzinnes di Namur. Henry II dari Luxembourg
menyerang Namur dan membakar habis Biara Salzinnes. St Yuliana melarikan
diri lagi dan diterima di Biara Suster-suster Cistercian di Fosses. Ia
melewatkan tahun-tahun terakhir hidupnya di Fosses sebagai seorang
pertapa miskin dengan kesehatan yang rapuh hingga wafat pada tanggal 5
April 1258. St Yuliana dimakamkan di Villiers.
Tampaknya
St Yuliana telah gagal dalam misinya; tetapi sesungguhnya tidak
demikian. Misi yang diembannya terus berlanjut seturut misteri
penyelenggaraan ilahi. Beata Eva, seorang biarawati pertapa dari St
Martin, melanjutkan apa yang telah dirintis St Yuliana. B Eva ingat akan
Diakon Agung dari Liège yang kini telah menjadi Paus Urbanus IV. Ia
membujuk Uskup Henry Guelders dari Liège dan beberapa orang berpengaruh
lainnya untuk menulis kepada Bapa Suci, mendesaknya menetapkan Hari Raya
Corpus Christi (demi menghormati Sakramen Mahakudus) bagi Gereja
semesta. Tetapi, Paus Urbanus, yang menyukai gagasan ini, sedang
menghadapi berbagai kesulitan politik. Beberapa tahun lewat sebelum ia
dapat memberikan perhatian penuh pada masalah ini.
Problem politik menyebabkan Bapa Suci harus mengungsi ke Orvieto. Sementara ia tinggal di sana, paus mendengar tentang Mukjizat Sakramen Mahakudus di Bolsena, suatu
kota kecil tak jauh dari Orvieto. Bapa suci menginstruksikan akar
dilakukan penyelidikan seksama terhadap mukjizat dan ia begitu terpesona
ketika pengujian membuktikan bahwa mukjizat tersebut otentik. Segera ia
memaklumkan agar suatu prosesi syukur yang istimewa dilangsungkan di
Orvieto.
Lebih lanjut, Paus Urbanus IV meminta St Thomas Aquinas
untuk menuliskan teks-teks liturgi, doa, dan madah pujian yang sesuai
bagi hari raya agung tersebut. Dipenuhi rahmat Tuhan, St Thomas
menghasilkan karya-karya yang dipandang sebagai masterpiece dalam
Liturgi Katolik. Di antaranya adalah “Lauda Sion”, “Pange Lingua”, “O
Salutaris”, dan “Tantum Ergo” yang masih didoakan serta dimadahkan
hingga kini dalam Perayaan Ekaristi Kudus, Adorasi, Pentahtaan maupun
Perarakan Sakramen Mahakudus. St Thomas kemudian memohon kepada Paus
Urbanus untuk segera memaklumkan Hari Raya Sakramen Mahakudus agar
dirayakan di segenap Gereja Katolik di seluruh dunia.
Setahun
kemudian, Paus Urbanus IV menerbitkan Bulla Transiturus pada tanggal 8
September 1264, di mana setelah mengagungkan kasih Juruselamat kita
dalam Ekaristi Kudus, ia memaklumkan agar Hari Raya Corpus Christi
dirayakan setiap tahun pada hari Kamis sesudah Hari Raya Tritunggal
Mahakudus. Bapa Suci juga memberikan banyak indulgensi bagi segenap umat
beriman yang ambil bagian baik dalam Misa Kudus maupun Ofisi pada hari
raya yang mengagumkan ini.
Wafat
Paus Urbanus IV pada tanggal 2 Oktober 1264, tak lama sesudah
diterbitkannya Bulla Transiturus, tampaknya menghambat penyebarluasan
perayaan Corpus Christi. Di kemudian hari, Paus Klemens V (1305-1314)
memberikan perhatiannya pada masalah ini dan dalam Konsili Vienne tahun
1311 ia menginstruksikan agar Hari Raya Corpus Christi dirayakan
kembali. Paus Klemens menerbitkan suatu dekrit baru yang menegaskan
dekrit yang dikeluarkan Paus Urbanus IV. Dalam masa Paus Yohanes XXII
(1316-1334) - penerus suksesi Paus Klemens V - hari raya ini dirayakan
dengan perarakan meriah dan pentahtaan Sakramen Mahakudus dalam
monstrans.
Sejak
tahun 1970, Hari Raya Corpus Christi atau Hari Raya Tubuh dan Darah
Kristus dirayakan pada hari Minggu sesudah Hari Raya Tritunggal
Mahakudus.
Mengenai
St Yuliana dari Liège, setelah wafatnya, sejumlah mukjizat dilaporkan
terjadi melalui perantaraannya. Pada tahun 1869 Paus Pius IX memaklumkan
beatifikasi St Yuliana. Pestanya dirayakan pada tanggal 6 April.
Semoga
kita meneladani St Yuliana dalam kasih dan hormat terhadap kehadiran
nyata Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus dari altar.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan dari berbagai sumber oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”


0 komentar:
Posting Komentar