Alfonsus
dilahirkan dekat Naples, Italia pada tahun 1696. Ia seorang pelajar
yang giat belajar. Ia mendapatkan gelar dalam bidang hukum dan menjadi
seorang pengacara terkenal. Suatu kesalahan yang dibuatnya di pengadilan
membuat Alfonsus yakin akan apa yang telah ada dalam pikirannya: ia
harus meninggalkan pekerjaannya dan menjadi seorang imam. Ayahnya
berusaha membujuk Alfonsus agar ia mengurungkan niatnya itu. Tetapi,
tekad Alfonsus sudah bulat. Ia menjadi seorang imam.
Kehidupan
Alfonsus dipenuhi dengan berbagai macam kegiatan. Ia berkhotbah dan
menulis banyak buku. Ia membentuk suatu kongregasi rohani yang disebut
“Kongregasi Pater-Pater Redemptoris” (CSsR; Redemptoris artinya Sang
Penebus). Alfonsus memberikan pengarahan rohani yang bijaksana dan
membawa damai bagi umatnya melalui Sakramen Rekonsiliasi. Ia juga
menulis lagu puji-pujian, bermain organ dan melukis. St. Alfonsus
menulis enampuluh buah buku. Ini sungguh luar biasa mengingat tugas dan
tanggung jawabnya yang lain amatlah banyak. Ia juga sering menderita
sakit. Ia sering sakit kepala, tetapi segera ia akan menempelkan sesuatu
yang dingin ke dahinya dan terus tetap bekerja.
Meskipun
pada dasarnya ia mempunyai kecenderungan untuk bersikap terburu-buru,
Alfonsus berusaha untuk menguasai diri. Ia amat rendah hati, hingga
ketika pada tahun 1798 Paus Pius VI ingin mengangkatnya menjadi seorang
Uskup, dengan lembut ia mengatakan “tidak”. Ketika para utusan paus
telah datang secara pribadi untuk menyampaikan keputusan paus kepadanya,
mereka menyapa Alfonsus dengan “Tuan yang Termasyhur”. Alfonsus
menjawab, “Tolong, jangan memanggilku seperti itu lagi. Sebutan itu akan
membuatku mati.” Paus memberikan pengertian kepada Alfonsus bahwa ia
sungguh menghendaki Alfonsus menjadi seorang Uskup.
Alfonsus
mengutus banyak pengkhotbah ke seluruh wilayah keuskupannya. Umat perlu
diingatkan kembali akan cinta kasih Tuhan dan akan pentingnya iman
mereka. Alfonsus berpesan kepada para imam untuk menyampaikan khotbah
yang sederhana. “Saya tidak pernah menyampaikan khotbah yang tidak dapat
dimengerti bahkan oleh nenek tua yang paling lugu yang ada di gereja,”
katanya. Dengan semakin bertambahnya usia, Alfonsus menderita berbagai
penyakit. Ia menderita radang sendi yang menyiksanya dan menjadikannya
lumpuh. Ia kehilangan pendengarannya serta nyaris buta. Ia juga harus
mengalami berbagai kekecewaan dan pencobaan. Namun, Alfonsus memiliki
devosi yang amat mendalam kepada Santa Perawan Maria, seperti yang dapat
kita ketahui melalui bukunya yang terkenal yang berjudul 'Kemuliaan Maria'. Segala penderitaan dan pencobaan itu berakhir dengan damai dan sukacita serta kematian yang kudus.
Alfonsus
wafat pada tahun 1787 pada usia sembilanpuluh satu tahun. Paus
Gregorius XVI menyatakannya kudus pada tahun 1839. Paus Pius IX
memberinya gelar Doktor Gereja pada tahun 1871.
“Bersama Tuhan, penebusan berlimpah.” ~ St. Alfonsus
“disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

0 komentar:
Posting Komentar