Giles
dilahirkan di Athena, Yunani. Ketika orangtuanya meninggal dunia, ia
mempergunakan banyak warisan yang mereka tinggalkan untuk menolong
orang-orang miskin. Sebab itu, dan teristimewa karena Tuhan mengadakan
banyak mukjizat dengan perantaraannya, Giles mendapati diri sebagai
seorang pemuda yang amat dikagumi. Giles tidak menghendaki pujian dan
kemashyuran ini sama sekali. Maka, agar dapat melayani Tuhan dalam hidup
yang tersembunyi, ia meninggalkan Yunani dan berlayar ke Perancis. Di
sana, ia hidup seorang diri dalam kegelapan hutan. Ia membuat tempat
tinggal dalam sebuah gua di balik semak belukar yang rimbun. Giles hidup
tenang di sana, aman dari bahaya besar kepala mendengar dirinya dipuji.
Tetapi,
suatu hari seorang raja dan para pengawalnya pergi berburu ke hutan
itu. Mereka mengejar kijang yang biasa datang ke gua Giles. Kijang itu
lenyap dari pandangan mereka dengan masuk ke dalam gua Giles yang
tersembunyi di balik semak belukar yang rimbun. Salah seorang pengawal
membidikkan anak panah ke rerimbunan semak, dengan harapan anak panah
itu mengenai si kijang. Ketika mereka menyibak semak belukar, mereka
mendapati Giles duduk terluka oleh anak panah.
“Siapakah
engkau dan apa yang engkau lakukan di sini?” tanya raja. St Giles
menceritakan kisah hidupnya kepada mereka. Setelah mendengarnya, mereka
mohon pengampunan. Raja mengutus para tabibnya untuk merawat luka santo
kita. Meski Giles memohon agar ditinggalkan seorang diri, raja sungguh
merasa kagum kepadanya hingga raja kerap datang menjenguknya. Giles
tidak pernah menerima hadiah-hadiah raja. Tetapi, pada akhirnya, ia
setuju raja mendirikan sebuah biara besar di sana. Giles menjadi
pemimpin biaranya yang pertama. Biara ini menjadi begitu terkenal hingga
seluruh kota datang ke sana. Ketika St Giles wafat, makamnya di biara
menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi para peziarah.
“Tuhan tidak mengukur kemurahan hati kita dengan berapa banyak yang kita berikan, melainkan berapa banyak yang kita tinggalkan.” ~ Uskup Agung Fulton Shee
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

0 komentar:
Posting Komentar